Berita Semarang
RS Telogorejo Semarang Gandeng RS Husada Selenggarakan Seminar Epilepsi di Jakarta
Epilepsi merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan sering terjadi (kambuhan) kejang tanpa adanya pencetus.
Untuk membuat seminar ini lebih mudah diterima, Stephanie Claudia Kamadjaja yang menjadi moderator sekaligus menceritakan pengalamannya sebagai seorang survivor ODE.
Melalui seminar tersebut dr. Anas menyampaikan gejela epilesi tidak selalu berupa gerakan tangan dan kaki atau kelojotan tetapi dapat berupa gangguan emosi, kognitif atau gejala lainnya.
Pada pasien epilepsi, pemeriksaan penunjang Electroencephalogram (EEG) atau tes yang digunakan untuk memeriksa aktivitas listrik pada otakdan pencitraan kepala sangat diperlukan.
"Keberhasilan terapi epilepsi sangat bergantung pada ketepatan penentuan jenis epilepsi, dosis dan keteraturan minum obat," terang dr. Anas.
Sebagai dokter spesialis anak konsultan, yang juga berfokus pada pasien epilepsi anak dr. Tun Paksi menjelaskan bahwa epilepsi merupakan gangguan fungsi listrik otak tanpa provokasi.
"Serangan dapat berupa gangguan motorik, kesadaran, perilaku, emosi, atau sensoris," ungkapnya.
Beliau juga memberi pesan untuk para survivor ODE, untuk menghindari faktor-faktor pemicu serangan kejang.
Dengan pengelolaan yang tepat gejala kejang dapat diminimalkan bahkan disembuhkan.
Menurut Prof. Zainal pembedahan adalah salah satu alternatif pengobatan epilepsi yang tidak dapat disembuhkan dengan obat.
"Mereka yang kebal obat adalah kandidat kuat untuk menjalani pembedahan,” ujarnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa 'asien yang hendak melakukan konsultasi disarankan agar menyerahkan informasi secara lengkap, seperti : video saat kejang, hasil Magnetic Resonance Imaging (MRI), EEG, obat yang diminum, dan riwayat alergi atau obat.
dr. Gracia Rutyana Harianto selaku Direktur Pemasaran SMC RS Telogorejo menyampaikan penanganan epilepsi pada anak hingga dewasa memerlukan kerjasama secara komprehensif dan kolaborasi medis.
Masih banyak masyarakat yang takut untuk melakukan penangan lebih lanjut pada epilepsi, salah satunya karena minimnya informasi penanganan bagi epilepsi kebal obat.
“Setiap pasien epilepsi memiliki keluhan masing-masing, ada yg memang dapat dikendalikan dengan obat," ujar dr. Gracia.
Ia menambahkan, ada penanganan epilepsi yang sudah tidak bisa dikontrol hanya dengan obat, yang kita sebut epilepsi kebal obat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/SMC-RS-Telogorejo-dan-RS-Husada.jpg)