Perkasa, Rupiah Jadi Satu-satunya Mata Uang Asia yang Menguat

Mayoritas mata uang Asia melemah, dipimpin baht Thailand yang melemah 0,28 persen, disusul dollar Singapura, ringgit Malaysia, yen Jepang, yuan China

Editor: Vito
KONTAN/Cheppy A Muchlis
ILUSTRASI 

TRIBUNJATENG,COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan pasar Kamis (11/5), kurs rupiah spot berada di level Rp 14.722 per dollar AS.

Kurs rupiah spot menguat 0,07 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada Rabu (10/5) di angka Rp 14.732 per dolar AS. Tetapi, rupiah masih melemah 0,25 persen dibandingkan dengan Kamis (4/5) pekan lalu di level Rp 14.685 per dolar AS.

Menurut data Bloomberg sore kemarin, rupiah menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat tipis terhadap the greenback. Mayoritas mata uang Asia melemah, dipimpin oleh baht Thailand yang melemah 0,28 persen.

Pelemahan juga terjadi pada dollar Singapura, ringgit Malaysia, yen Jepang, yuan China, rupee India, peso Filipina, dollar Taiwan, won Korea, dan dolar Hong Kong.

"Taruhan bahwa Federal Reserve akan memberi jeda kenaikan suku bunga bulan depan dan potensi penurunan suku bunga setelah itu menjadi sentimen positif bagi mata uang emerging Asia, dan mempertahankan dollar dalam tren turun," kata Galvin Chia, strategist Natwest Markets, di Singapura, kepada Bloomberg.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mencermati, pergerakan rupiah dibuka menguat setelah data inflasi AS menunjukkan perlambatan pada April 2023.

"Perlambatan ini mendorong ekspektasi bahwa Fed akan menahan suku bunganya di sisa tahun ini," katanya, kepada Kontan.co.id, Kamis (11/5).

Meski demikian, Josua melihat, rupiah memangkas penguatannya akibat sentimen perlambatan ekonomi Tiongkok yang sejalan dengan penurunan inflasi.

Indeks harga konsumen (CPI) China pada April naik 0,1 persen secara tahunan, terendah sejak Februari 2021, dan menurun dari kenaikan tahunan 0,7 persen pada bulan Maret. Alhasil, rupiah ditutup menguat tipis 0,01 persen ke level Rp 14.722 per dollar AS pada hari ini, Kamis (11/5).

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin mengamati bahwa penguatan rupiah cenderung terbatas. Hal itu berlawanan dengan kinerja mata uang Asia lainnya yang kompak melemah.

Sentimen negatif di pasar mata uang Asia tidak lepas dari angka inflasi AS yang terlihat beragam pada rilis data Rabu (10/5) malam. Angka inflasi tahunan turun tipis di level 4,9 persen, dari 5,5 persen untuk periode April, tetapi inflasi bulanan naik 0,4 persen.

Tidak hanya mata uang Asia, Nanang melihat, mata uang utama pun di sesi perdagangan Asia dan Eropa juga mengalami pelemahan karena kecemasan prospek kenaikan suku bunga Fed masih terbuka.

Selain itu, data inflasi dari China yang turun ke 0,4 persen dari 0,7 persen jauh di bawah target utama memberi kecemasan tambahan soal perlambatan ekonomi global. Sehingga, peluang safe haven dan memburu dollar sedikit mencuat.

Namun, potensi pelemahan dollar bisa kembali terjadi di sesi Amerika pada Kamis malam karena laporan inflasi produsen (PPI) AS yang diperkirakan akan menyusut 2,7 persen ke 2,4 persen secara tahunan. Sementara itu, angka klaim pengangguran AS pun diproyeksikan naik dari 242.000 ke 245.000.

Nanang berujar, pada perdagangan Jumat (12/5), pasar akan melihat reaksi investor dalam menyikapi data terbaru AS tersebut. Sementara, minim katalis dari dalam negeri yang akan berpengaruh bagi rupiah.

"Faktor eksternal akan memiliki peranan penting di sesi perdagangan akhir pekan," ungkapnya, kepada Kontan.co.id, Kamis (11/5).

Sementara, Josua memproyeksikan rupiah berpotensi menguat di perdagangan akhir pekan. Hal itu sejalan dengan potensi sentimen dari data PPI AS yang akan dirilis Kamis (11/5) malam.

Proyeksi Josua, rupiah bisa bergerak menguat di kisaran Rp 14.674-Rp 14.775 per dollar AS di perdagangan Jumat (12/5). Sedangkan Nanang memperkirakan rentang rupiah pada perdagangan akhir pekan bakal berada di antara Rp 14.650-Rp 14.780 per dollar AS. (Kontan.co,id/Wahyu Tri Rahmawati/Akmalal Hamdhi)

BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved