Sabtu, 2 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

Opini Dr Aji Sofanudin: Pudarnya Tradisi Inovasi di Muhammadiyah

SETELAH sebelumnya, Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiah sukses digelar di Surakarta, 18-20 November 2022, dan Musywil Muhammadiyah dan Aisyiah Jaw

Tayang:
Editor: m nur huda
tribunjateng/bram
Opini Ditulis Oleh Dr. Aji Sofanudin (Senior Researcher pada Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN) 

Opini Ditulis Oleh Dr. Aji Sofanudin (Senior Researcher pada Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN)

TRIBUNJATENG.COM - SETELAH sebelumnya, Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiah sukses digelar di Surakarta, 18-20 November 2022, dan Musywil Muhammadiyah dan Aisyiah Jawa Tengah sukses digelar di kota Tegal, pada 3-5 Maret 2023, PDM dan PDA se-Jawa Tengah akan menggelar Musyawarah Daerah (Musyda) Muhammadiyah kabupaten/kota antara bulan Mei-Juli 2023.

Sebagai contoh, Musyda Muhammadiyah kota Semarang, kota Salatiga, dan kabupaten Semarang digelar 21 Mei 2023, Musyda Kabupaten Wonosobo dan Cilacap 27-28 Mei 2023, dst (pwmjateng.com). Tema Musyda kota Semarang sama dengan tema yang diangkat pada Musyda di kab/kota lainnya yakni Memajukan Kota Semarang, Mencerahkan Semesta.

“Memajukan” dan “mencerahkan” merupakan tagline Muhammadiyah. Dalam istilah lain disebut tajdid. Tajdid merupakan kata dalam bahasa Arab yang berarti "pembaruan" atau "memperbaharui".

Inovasi Muhammadiyah

Tajdid merupakan upaya terus-menerus untuk memperbaharui, merevitalisasi, dan menjaga kesinambungan ajaran dan praktik agama dalam rangka menjawab tantangan dan kebutuhan zaman.

Dalam batas tertentu makna tajdid adalah inovasi. Fokus tajid dan inovasi sama yaitu melakukan perubahan, menghadirkan sesuatu yang baru. Salah satunya dengan melakukan ATM; amati, tiru dan modifikasi.

Inovasi dan tajdid berupaya menjawab tuntutan dan tantangan zaman. Inovasi dan tajdid semangatnya sama yakni menyesuaikan dengan perubahan sosial dan budaya. Salah satu contohnya yakni melakukan pemilihan dengan cara e-voting.

Tajdid maupun inovasi melibatkan refleksi kritis terhadap apa yang telah ada. Mereka mendorong peninjauan ulang (amati), evaluasi (plus minus) dan pembaruan (modifikasi). Muaranya pada ATM atau dalam Bahasa disebut 3N (niteni, nirokke, nambahi).

Tujuan inovasi dan tajdid sama yakni melakukan perbaikan. Dalam bahasa pesantren disebut al-Muhafadzatu alalqadimisholeh wal ahdu bi al-jadidil ashlah, memelihara tradisi lama yang baik sembari menciptakan tradisi baru yang lebih baik.

Meskipun memiliki banyak persamaaan, antara tajdid dan inovasi memiliki konteks yang berbeda. Tajdid secara spesifik melakukan pembaruan bidang agama, sementara inovasi lebih melakuan perubahan dan pengembangan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi dan sebagainya.

Beberapa inovasi yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah misalnya bidang pendidikan yakni melakukan HIS met de Quran, yakni menyisipkan pembelajaran Alquran pada sistem pendidikan Belanda/Hollandsch Indlandsche School (HIS). Model ini ditiru oleh semua sekolah Islam di Indonesia, tentu dengan beberapa modifikasi.

Pendidikan agama menjadi mata pelajaran wajib pada semua jenis, jalur dan jenjang pendidikan pada awalnya merupakan amal jariyah (inovasi) yang dilakukan oleh Muhammadiyah.

Pemilihan pimpinan Muhammadiyah dengan cara e-voting, hemat kami suatu saat akan diadopsi oleh berbagai pemilihan kepala daerah di Indonesia. Bahkan, sangat mungkin diadopsi untuk pemilihan presiden secara langsung. Terbukti, cara ini lebih efektif dan efisien, lebih hemat.

Teknologi jelas akan mempengaruhi masyarakat, demikian juga perilaku masyarakat akan mempengaruhi perkembangan teknologi suatu bangsa. Inovasi merupakan suatu keniscayaan di tengah perubahan teknologi utamanya teknologi informasi.

Semangat Muhammadiyah sejatinya adalah semangat inovasi. Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan merupakan seorang pembaharu/inovator dalam bidang falak. Beliau pernah meluruskan arah kiblat Masjid Gede Kauman Yogyakarta pada 1897 Masehi/1315 Hijriah.

Ketika itu Masjid Agung Kauman dan masjid-masjid lainnya, letaknya ke barat lurus, tidak tepat menuju arah kiblat yang 24 derajat arah barat laut.

Semangat ini mestinya yang perlu ditumbuhsuburkan dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Sayang, nampaknya semangat Muhammadiyah untuk melakukan inovasi bukan merupakan gerakan mainstrem dalam organisasi.

Saat ini, inovasi justru gencar dilakukan oleh Nahdlatul Ulama (NU). NU melakukan maistreming bid’ah hasanah dalam berbagai hal.

NU banyak melakukan ATM (amati, tiru, dan modifikasi) terhadap kemajuan Muhammadiyah di bidang pendidikan. Pada pendidikan tinggi misalnya, kampus-kampus NU, mulai membuka jurusan-jurusan yang menjadi unggulan di Muhammadiyah.

Muhammadiyah seperti terjebak dalam rutinitas, mandeg dalam melakukan pembaruan. Semoga tidak benar. Selamat melakukan Musyda Muhammadiyah dan Aisyiah di berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah. Semangat inovasi adalah semangat fastabiqul khairaat, berlomba-lomba dalam kebaikan. (*tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved