Guru Berkarya
Metode Asesmen dalam Kurikulum Merdeka
Pelaku asesmen tidak selau harus guru tetapi murid menilai diri sendiri, murid menilai murid sesuai atau lintas jenjang.
Metode Asesmen dalam Kurikulum Merdeka
Anis Lutfiani, S.Pd.
Guru SDN 01 Pener Kec. Taman Kab. Pemalang
Asesmen (penilaian) merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan mengenai peserta didik, terkait dengan kurikulum, program pembelajaran dan dan kebijakan sekolah (Basuki dan Hariyanto, 2014: 5-9). Sedangkan Menurut KBBI Asesmen merupakan kegiatan mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data atau informasi tentang peserta didik dan lingkungannya untuk memperoleh gambaran tentang kondisi individu dan lingkungannya sebagai bahan untuk memahami individu dan pengembangan program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam pembelajaran pembelajaran para dikma baru pendidikan, pelaksanaan asesmen diharapkan lebih berorientasi kepada keseluruhan proses belajar murid.
Asesmen harus disesuaikan kompetensi dan tujuan belajar murid. Asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya. Untuk menjelaskan kemajuan belajar dan menentukan keputusan selanjutnya. Dalam pembelajaran, guru bisa melakukan asesmen yang berorientasi pada proses. Bukan sebatas hasil akhir saja. Terdapat tiga pendekatan asesmen yang bisa diterapkan sesuai kebutuhan yaitu asesmen diagnostik, asesmen formatif, dan asesmen sumatif. Ketiganya dapat dilaksanakan dengan metode dan teknik yang beragam.
Asesmen diagnostik dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengatahui kapasitas murid di kelas. Kemudian dilanjutkan asesmen formatif yang lebih terintegrasi dengan proses pembelajaran yang lebih melibatkan kemajuan belajar murid yang mendalam. Misalnya melalui penilaian diri (self assessment), penilaian antar teman (peer assessment), dan refleksi metakognitif. Terakhir dilanjutkan dengan asesmen sumatif yang pelaksanaanya untuk menguatkan konfirmasi capaian hasil belajar.
Asesmen ditekankan pada asesmen belajar murid yang lebih komprehensif dan berpusat pada murid (student centered). Dalam pelaksanaan asesmen diagnostik, formatif, maupun sumatif, kita bisa menggunakan tiga teknik asesmen yang paling umum yaitu pertama teknik observasi yaitu murid diamati secara berkala dalam kurun waktu tertentu, sesuai kebutuhan guru di kelas. Observasi dapat dilakukan dalam tugas atau aktivitas sehari-hari. Kedua teknik asesmen performa yaitu kegiatan yang dirancang dengan fleksiel, dapat berupa praktik seperti presentasi, projek atau portofolio. Guru dapat memberikan keleluasaan murid untuk menentukan sendiri bukti kemajuan belajar sehingga produk yang dihasilkan beragam sesuai minat murid. Ketiga yaitu tes tertulis/lisan digunakan untuk menguji pengetahuan murid. Teknik ini digunakan untuk mengetahui level pengetahuan dan menghapal. Padahal, sebenarnya asesmen dapat digunakan untuk menguji level pemahaman murid dengan mengajak mereka erefleksikan suatu konsep dan mengaitkannya terhadap kehidupan sehari-hari melalui studi kasus.
Dalam melakukan asesmen, ada beberapa instrumen yang diperluan dalam prosesnya. Pertama instrument rubrik yaitu panduan yang dibuat untuk menilai dan mengevaluasi kualitas capaian murid dengan menggunakan kriteria dan skor tertentu. Ada tiga indikator, setiap indikator dibuat empat kategori capaian. Kemudian setiap katagori capaian diisi kriterianya. Kriteria inilah yang menjadi panduan guru dalam menilai capaian murid. Kedua yaitu instrument ceklis yang berupa daftar informasi, data, ciri-ciri, atau karakteristik. Ketiga yaitu instrument catatan anekdotal yang merupakan catatan singkat hasil observasi pada murid. Catatan disertai latar belakang kejadian dan hasil analisis dari observasi yang telah dilakukan. Contohnya saat murid-murid sedang aktif berdiskusi dalam kelompok guru membuat catatan anekdotal murid yang aktif, pasif atau lainnya. Keempat yaitu lembar pengamatan yang berisi perkembangan kompetensi murid dalam sebuah mata pelajaran tertentu
Pelaku asesmen tidak selau harus guru tetapi murid menilai diri sendiri, murid menilai murid sesuai atau lintas jenjang. Seperti murid kelas enam menilai murid kelas empat atau kelas lima. Atau bisa memberdayakan staf sekolah dan orang tua untuk menjadi tim penilai. Bisa digunakan salah satu atau bisa dipadukan. Dengan pembelajaran paradigma baru, asesmen harus lebih mampu mengakomodir keseluruhan proses belajar murid sesuai kebutuhan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/anis-lutfiani-spd-guru-sdn-01-pener-kec-taman-kab-pemalang.jpg)