Berita Nasional
Fenomena Supermoon Bisa Terlihat di Indonesia pada 1 Agustus 2023, Ini Dampaknya
Fenomena supermoon yang menyebabkan langit malam menjadi lebih terang dari biasanya, bisa terlihat dari Indonesia.
Bulan diketahui memiliki jarak rata-rata sejauh 238 ribu mil atau 382.900 km dari Bumi.
Namun, jarak bulan berubah-ubah sehingga terdapat apogee (posisi terjauh) dan perigee (posisi terdekat) yang dikarenakan orbitnya berbentuk elips.
“Alasan utama mengapa orbit bulan bukan lingkaran sempurna (elips) adalah karena ada banyak gaya pasang suruh atau gravitasi yang menarik bulan,” ucap ilmuwan NASA Noah Petro.
Ia menambahkan, gravitasi Bumi, matahari, dan planet lain berpengaruh pada orbit bulan.
“Anda memiliki semua gaya gravitasi berbeda yang menarik dan mendorong bulan, yang memberi kita kesempatan untuk melewati jarak dekat ini,” tuturnya.
Baca juga: Supermoon di Kabupaten Demak Dikhawatirkan Memperburuk Daerah Terdampak Rob
6. Ada dua faktor pendukung terjadinya supermoon
Terdapat dua faktor untuk mendukung terjadinya fenomena supermoon, yakni perigee dan fase purnama.
Perigee bulan terjadi setiap 27 hari sekali, sedangkan fase purnama setiap 29,5 hari ketika cahaya matahari dapat menyinari seluruh permukaan bulan yang menghadap ke Bumi.
Diperkirakan, bulan akan tampak 30 persen lebih terang dan 14 persen lebih besar dari biasanya saat supermoon. Namun, sangat sulit untuk melihat perbedaannya dengan mata telanjang.
“Itu tidak cukup untuk diperhatikan (perbedaannya) kecuali Anda adalah pengamat bulan yang sangat berhati-hati,” kata Petro. (*)
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/supermoon-2_20161115_223800.jpg)