Berita Kabupaten Semarang
8 Desa di Enam Kecamatan Kabupaten Semarang Krisis Air Bersih, Ini Daftarnya
Delapan desa di enam kecamatan yang ada di Kabupaten Semarang mengalami kekeringan. Warga delapan desa tersebut kesulitan mendapatkan air bersih.
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: Muhammad Olies
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Delapan desa di enam kecamatan yang ada di Kabupaten Semarang mengalami kekeringan. Warga delapan desa tersebut kesulitan mendapatkan air bersih.
Delapan desa krisis air bersih tersebut meliputi Gogodalem, Sambirejo dan Rembes (Bringin), Kalikayen (Ungaran Timur), Kemitir (Sumowono), Tajuk (Getasan), Semowo (Pabelan), Plumutan (Bancak).
Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengatakan pihaknya sudah memetakan kawasan yang mengalami kekeringan dampak dari musim kemarau pada tahun ini.
Menurutnya, permasalahan di lokasi masing-masing desa berbeda sehingga penanganannya pun tak sama.
"Kami sudah kaji dan siapkan solusi jangka pendek, menengah dan panjangnya seperti apa,” kata Ngesti seusai menyambangi Desa Kalikayen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Senin (21/8/2023).
Baca juga: Sembilan Desa di Banyumas Kekeringan, BPBD Siapkan Pasokan Air Bersih
Baca juga: 58 Desa di Grobogan Jateng Krisis Air Bersih
Baca juga: Diterjang Musim Kemarau, 13 Desa di Kabupaten Pekalongan Rawan Krisis Air Bersih
Untuk solusi jangka pendek, Ngesti Nugraha mengatakan pihaknya telah mengirimkan air bersih ke desa-desa yang kesulitan air bersih, satu di antaranya di Desa Kalikayen.
Dia menjelaskan, Desa Kalikayen terutama Dusun Kebontaman memiliki kebutuhan 10 tanki air tiap pekannya.
“Untuk infrastrukturnya, kaitannya dengan baknya belum siap, namun prioritasnya kami kirim air dulu secara rutin,” imbuh dia.
Terkait langkah jangka panjang, Pemkab Semarang sendiri juga mendapatkan bantuan dari Kementerian PUPR untuk pembangunan sumur bor di desa-desa rawan kekeringan.
Satu di antaranya di Kecamatan Bringin. Ngesti mengatakan pembangunan sumur bor telah selesai dan tinggal menunggu serah terima serta penyalaan listriknya.
“Bantuannya senilai Rp 20 miliar. Kalau sudah bisa beroperasi, bisa dipakai sekitar lima sampai enam desa di sekitar Gogodalem, itu satu solusi yang bisa permanen,” lanjut dia.
Untuk wilayah lain seperti di Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, Ngesti mengatakan bahwa masalah air bersih masih lebih mudah diatasi, lantaran sumber mata air masih bisa keluar.
Selain itu, terkait kekeringan lahan sawah di wilayah dataran tinggi atau pegunungan seperti Kecamatan Getasan, Ngesti juga memiliki solusi terkait sosialisasi ganti tanam jenis tanaman.
“Beberapa titik seperti Getasan kami minta menanam tembakau, sementara itu kalau daerah bawah seperti sawah tadah hujan itu juga hanya bisa tanam satu kali saja,” pungkas Ngesti Nugraha. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/weeeedadsa.jpg)