Minggu, 17 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Regional

Pesisir Tak Diminati Generasi Muda, Kemenpora Gandeng Anak Muda Berkecimpung di Bidang Maritim

Kerasnya kehidupan maritim atau kehidupan di pesisir membuat banyak pemuda memilih kerja formal sebagai karyawan dibanding harus menjadi nelayan.

Tayang:
Penulis: amanda rizqyana | Editor: Muhammad Olies
Tribun Jateng/Amanda Rizqyana
Pelatihan Pemuda Maritim: Empowering Youth For Blue Economy and Disaster Resilence: Hernessing The Potential of Coastal Resources and Building Sustainable Livelihoods diadakan di Khas Hotel Semarang, Jalan Depok, Kota Semarang pada Rabu (13/9/2023). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kerasnya kehidupan maritim atau kehidupan di pesisir membuat banyak pemuda memilih kerja formal sebagai karyawan dibanding harus menjadi nelayan.

Pemuda pesisir di Indonesia dikhawatirkan kurang tertarik lagi dengan dunia maritim atau 'ekonomi biru'.

Beberapa lebih memilih menjadi karyawan swasta atau merantau keluar dari wilayah tempat tinggalnya.

Bahkan, para orang tua melarang anak-anaknya meneruskan profesi nelayan karena dianggap profesi dengan penghasilan rendah.

Seperti yang sempat dialami Muhammad Lintang Anugrah Hana Putra (23), warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mangkang, Kota Semarang yang merupakan warga pesisir.

Ia merasakan sendiri ketika kakaknya memilih bekerja di luar nelayan karena memiliki idealisme sendiri.

"Tapi bapak juga tidak pernah memaksa anaknya bekerja kayak bapak, nggak pernah melarang juga," ungkap Lintang yang merupakan mahasiswa Sistem Informatika, Universitas Negeri Semarang (Unnes) angkatan 2018.

Baca juga: Sampah Tersebar di Pesisir Kota Semarang, Mbak Ita Dorong Masyarakat Pilah dari Rumah

Baca juga: Cegah Abrasi dan Lindungi Pesisir, DLH Batang Tanam 15 Ribu Mangrove dan 8 Ribu Cemara Laut

Baca juga: 7 Destinasi Wisata Pesisir yang Sayang untuk Dilewatkan Saat Berkunjung Ke Purworejo

Pekerjaan orang Lintang kini merupakan nelayan sekaligus petani tambak dan mangrove.

Diakuinya, mengandalkan pemasukan dari laut tidaklah menentu setiap bulannya.

Besaran pendapat, risiko yang besar, dan perubahan cuaca yang signifikan membuat banyak orang enggan meneruskan pekerjaan maritim tersebut.

Meski demikian, Lintang justru bertekad meneruskan perjuangan bapaknya sebagai petani bakau.

Tanaman bakau yang bisa dimanfaatkan dari batang sebagai material kayu untuk pengasapan daging, buah untuk keripik maupun jeli, dan daun sebagai pakan ternak.

"Dari petani bakau, sebulan bisa dapat Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta," ungkapnya pada Tribun Jateng, di sela Pelatihan Pemuda Maritim: Empowering Youth For Blue Economy and Disaster Resilence: Hernessing The Potential of Coastal Resources and Building Sustainable Livelihoods diadakan di Khas Hotel Semarang, Jalan Depok, Kota Semarang pada Rabu (13/9/2023).

Melihat pendapatan yang diperoleh dan keniscayaan abrasi yang dialami kampungnya, Lintang ingin meneruskan usaha orang tuanya menanam bakau.

Ia berharap dengan ilmu yang dimiliki, dapat menciptakan aplikasi yang nantinya bisa bermanfaat untuk mengembangkan aspek ekonomi dan sosial masyarakat pesisir.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved