Kamis, 16 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Penyebab Suhu di Jateng Panas Menurut BMKG, Semarang Tembus 38 Derajat Celcius

Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara di beberapa wilayah Jawa Tengah cukup panas.

Editor: rival al manaf
Shutterstock
Ilustrasi suhu panas 

TRIBUNJATENG.COM - Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara di beberapa wilayah Jawa Tengah cukup panas.

Di Semarang, saat siang hari bahkan suhu tercatat sampai 38 derajat celcius.

Lantas apa penyebab suhu di Semarang sangat panas akhir-akhir ini?

Baca juga: Gempa Bumi 13 Kali Dalam 8 Jam, Sabtu 30 September 2023, Cek Jarak dan Lokasi Dari Rilis BMKG

Baca juga: Kenapa Suhu Makin Panas Akhir-akhir Ini? El Nino Dorong Suhu Laut Naik Ancam Ekosistem Kehidupan

Baca juga: Prakiraan Cuaca Tegal Raya Senin 18 September 2023, Suhu Mencapai 34 Derajat Celcius

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan perihal suhu panas yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Dari hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum sekitar 35-38 derajat Celsius pada siang hari selama periode 22-28 September 2023.

Perinciannya yakni 38 derajat Celsius (suhu maksimum) di Jawa Tengah dan 35-37 derajat Celsius di wilayah Jabodetabek pada 25 September 2023.

Lantas, apa yang menjadi penyebab suhu panas dalam beberapa waktu terakhir?

Faktor penyebab suhu panas

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, setidaknya ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab suhu panas di sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Di antaranya yakni pertumbuhan awan, peralihan musim hingga posisi Matahari.

Andri membeberkan, saat ini kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia terutama di Jawa hingga Nusa Tenggara (termasuk Jabodetabek) didominasi oleh kondisi cuaca yang cerah dan sangat minimnya tingkat pertumbuhan awan terutama pada siang hari.

"Kondisi ini tentunya menyebabkan penyinaran Matahari pada siang hari ke permukaan Bumi tidak mengalami hambatan signifikan, sehingga suhu pada siang hari di luar ruangan terasa sangat terik," ujarnya, seperti dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (29/9/2023).

Selain hal di atas, posisi semu Matahari yang sedang berada di selatan ekuator juga mempunyai dampak.

Di mana wilayah Indonesia yang berada di daerah tersebut, termasuk Jawa hingga Nusa Tenggara mendapatkan pengaruh penyinaran Matahari yang relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Indonesia lainnya.

Kendati demikian, fenomena astronomis tersebut tidak berdiri sendiri dalam mengakibatkan peningkatan suhu udara secara ekstrem di permukaan Bumi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved