Kesehatan
CATAT! Mayoritas Cacar Monyet Serang Homoseks dan Biseksual, Tertular Akibat Kontak Seksual
Infeksi virus monkey pox atau Mpox atau juga dikenal sebagai cacar monyet menjadi perhatian di banyak belahan dunia, termasuk Asia Tenggara.
Penulis: amanda rizqyana | Editor: Muhammad Olies
Hal ini dapat mengakibatkan kurangnya kepedulian terhadap penyakit ini dan keengganan mengambil tindakan untuk melindungi diri dari infeksi.
“Terlepas dari tantangan-tantangan ini, penting untuk menyadari peran kesadaran masyarakat dalam mengatasi masalah Mpox di Indonesia dan Asia Tenggara," ungkap Hanny Nilasari.
Baca juga: Seorang Pria di Jakarta Terkonfirmasi Positif Cacar Monyet, Sudah Muncul Bercak di Alat Vitalnya
Baca juga: Pasien Cacar Monyet Pertama Indonesia Berasal dari Jakarta, Ini Gejala Monkeypox yang Dialami
Ia menambahkan, dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gejala-gejala penyakit ini, dan mendidik masyarakat tentang cara melindungi diri dari infeksi.
Masyarakat dapat mengurangi penyebaran penyakit dan meningkatkan hasil bagi mereka yang terinfeksi.
Hanny Nilasari mengingatkan bahwa banyak penderita Mpox memiliki gejala ringan, yang mungkin tidak cukup parah sehingga memerlukan perhatian medis.
Hal ini dapat mengakibatkan penyakit ini terabaikan, karena orang mungkin berasumsi bahwa gejalanya tidak serius dan akan sembuh dengan sendirinya.
Namun, kasus Mpox yang ringan sekalipun dapat menular dan menyebabkan penyebaran penyakit, serta berakibat fatal terutama pada pasien dengan imunitas renda*.
PB IDI juga menilai bahwa perlu dikembangkan penelitian lebih lanjut untuk pengendalian cacar monyet ini.
Banyak pemerintah di kawasan Asia Tenggara yang kurang memperhatikan masalah penelitian.
Hal ini menyulitkan organisasi pelayanan kesehatan untuk menerapkan langkah-langkah pengendalian yang efektif dan melakukan penelitian yang diperlukan mengenai pengobatan dan vaksin.
Selain itu, Mpox sering kali mendapat prioritas rendah dari berbagai organisasi dan tidak dipandang sebagai isu prioritas dibandingkan penyakit lain, seperti HIV/AIDS, tuberkulosis, atau malaria.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta per 27 Oktober 2023, terdapat 15 orang dengan kasus positif, dan 1 kasus sembuh (Agustus 2022).
Selain itu dari 14 orang kasus positif aktif dengan positivity rate PCR 44 % , dimana hampir semua bergejala ringan dan tertular secara kontak seksual.
Data tersebut juga menyebutkan bahwa semua pasien tersebut adalah laki-laki usia 25-50 tahun.
Selain itu, data DKI Jakarta juga menyebutkan bahwa terdapat 20 orang dengan hasil PCR negatif, dan 2 orang yang masih menunggu hasil PCR.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tampilan-infeksi-cacar.jpg)