Menengok Proses Pembuatan Ampyang di Pasar Raya Salatiga
Ampyang atau Gula Kacang merupakan salah satu makanan khas Jawa Tengah. Terdiri dari dua bahan utama yaitu gula jawa dan kacang tanah.
TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Ampyang atau Gula Kacang merupakan salah satu makanan khas Jawa Tengah. Terdiri dari dua bahan utama yaitu gula jawa dan kacang tanah.
Pada gula kacang ini, gula jawa yang sudah menjadi karamel berada di bagian bawah, dan kacang ada di atas menjadi topingnya. Rasanya manis dan gurih khas Jawa Tengah juga menjadi salah satu suguhan yang sering dihidangkan oleh tuan rumah kepada tamunya, terutama di Kota Salatiga atau Boyolali.
Gula Kacang ini biasanya dijual di tempat oleh-oleh khas Kota Salatiga. Namun jika membeli di tempat oleh-oleh Gula Kacang tersebut sudah dingin dan sudah dikemas dalam plastik.
Nah, di Pasar Raya Salatiga, ada yang berbeda. Listiana (48) menyajikan ampyang dalam kondisi hangat. Bahkan pembeli bisa menyaksikan langsung proses pembuatan gula kacang ini. Proses dari kacang dan gula merah hingga kemudian menjadi ampyang. Masih hangat, terasa lebih nikmat.
Ditemui di Pasar Raya Salatiga, Jumat (12/1/2024), Listiana tampak sedang memasak gula kacang. Dia menuturkan sudah jualan ampyang sejak lulus SMP hingga kini.
"Dari lulus SMP itu tahun 98, nah lulus SMP langsung jualan. Awal jualan masih di pasar bagian depan sana belum di sini," kata Listiana.
Proses Pembuatan
Tiap hari Listiana mulai jualan dan memasak Gula Kacang pada pukul 05.30 sampai sore hari pukul 16.00 WIB. Dalam sehari dia bisa memasak gula kacang 3-4 kali di wajan besar. Berbeda pula ketika masa liburan ia akan memasak dua kali lipat dari biasanya.
Untuk ukuran satu wajan besar sendiri bisa menjadi 8 kilogram Gula Kacang. saat memasak Gula Kacang akan memerlukan waktu kurang lebih satu jam hingga proses pencetakan Gula Kacang yang pertama.
Diterangkannya, cara pembuatan gula kacang diawali dengan mengentalkan gula jawa terlebih dahulu, lalu ketika mendidih diberi parutan jahe. Kemudian baru kacang tanah yang mentah dimasukkan. Listiana menggunakan gula jawa asli. Yang dirasa lebih kental. Jika menggunakan gula jawa campur gula pasir hasilnya akan berbeda.
Bahan baku sudah ada pelanggan yang antar ke tokonya. Maka gula jawa yang digunakan juga khas, tidak campuran. Perbedaan gula kacang hasil masakan atau cetakannya tergantung waktu pembuatan. Gula kacang cetakan pertama akan masih berwarna kuning, dan semakin lama akan berwarna coklat. Cetakan terakhir berwarna lebih gelap karena semakin lama digodog gula jawanya akan semakin menjadi karamel.
Awet Sebulan
Pada setiap cetakan juga memiliki perbedaan keawetan, untuk cetakan yang terakhir lebih tahan lama bisa tahan sampai 1 bulan. Sedangkan di awal masih kuning hanya bisa bertahan selama seminggu.
Ia lebih memilih untuk memasak di tempat daripada memasak di rumah yaitu karena pembeli lebih berminat untuk membeli Gula Kacang yang benar benar baru dimasak. Rasanya lebih enak dibanding gula kacang yang sudah dikemas.
Setengah kilogram gula kacang hanya Rp 20 ribu. Atau satu kilogram Rp 40 ribu. Tentunya ia juga menerima pesanan sesuai dengan permintaan pembeli secara langsung atau menghubungi nomor teleponnya. (Christiana Adinugraheni, Mahasiwa Ilmu Komunikasi UKSW Magang Jurnalistik Tribun Jateng)
| Perjuangan Siti Mutmainah: 4 Jam Menunggu Berkah Rezeki Dari Nasi Kepel Ampyang Maulid di Kudus |
|
|---|
| Ribuan Warga Kudus Berebut Nasi Kepel di Kirab Ampyang Maulid, Warisi Tradisi Leluhur |
|
|---|
| Kebakaran di Pasar Raya Salatiga Tadi Malam, 4 Kios Hangus Terbakar |
|
|---|
| Viral Wanita Kedapatan Beli Jeruk Pakai Uang Palsu di Pasar Raya Salatiga, Sudah Dapat Rp 4 Juta |
|
|---|
| Cuaca Begini Cocok Menikmati Satai Kronyos Disiram Bumbu Kacang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pembuatan-ampyang-di-pasar-raya-salatiga.jpg)