Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Supriyanto dan Gabah Busuk Terendam Banjir Demak

Supriyanto, seorang petani di Demak, menunjukkan ketabahan di tengah bencana banjir yang merendam lahan pertanian.

kompas.com
Supriyanto (51) menunjukkan gabah miliknya yang membusuk terdampak banjir Kabupaten Demak, Jumat (23/2/2024). (KOMPAS.COM/NUR ZAIDI)(KOMPAS.COM/NUR ZAIDI) 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Bertahan tegar di tengah cobaan, Supriyanto (51) tersenyum tipis, mencerminkan ketabahan hatinya dalam menghadapi musibah yang menimpanya.

Selama dua minggu terakhir, banjir telah merendam pemukiman warga Desa Cangkring Pos, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak.

Meskipun langit terlihat suram sejak pagi, Supriyanto tetap meminta anaknya untuk membantu menyebarkan gabah basah berwarna cokelat gelap di pelataran penggilingan padi yang ia sewa.

Baca juga: Pemungutan Suara Pemilu Susulan di Demak Tetap Dilaksanakan Meskipun Terendam Banjir

Keputusannya menyewa pelataran penggilingan padi diambil karena halaman rumahnya masih tergenang lumpur akibat banjir.

Senyum tipis Supriyanto tidak mampu menyembunyikan ekspresi lesu di wajahnya yang dipenuhi kerutan di dahi dan pandangan mata yang sendu.

Saat menatap gabah yang sudah membusuk dan berbau tak sedap, dua alisnya mengkerut, mencerminkan keprihatinan yang mendalam.

Gabah-gabah itu diambil dari lahan sawah miliknya yang terendam banjir.

Sebelum bencana itu melanda, ia telah merencanakan untuk panen dalam waktu tiga hari.

"Telah membusuk selama sekitar 15 hari banjir," ucapnya di lokasi penggilingan padi Desa Cangkring Pos, pada Jumat (23/2/2024).

Supriyanto memiliki tiga bidang sawah, yang masing-masing mampu menghasilkan gabah seberat 3,5 ton.

Namun, saat ini ia hanya berhasil menyelamatkan satu bidang sawah meskipun hasilnya sudah membusuk.

Untuk memanen satu bidang padi, Supriyanto mengeluarkan biaya sebesar Rp 4 juta.

"Iya, ada," kata Supriyanto.

Dia menyebutkan bahwa harga gabah saat ini mencapai Rp 830.000 per kwintal.

Namun, gabah miliknya yang sudah membusuk hanya ditawar oleh tengkulak dengan harga Rp 250.000 per kwintal.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved