Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Biola Bambu dari Lereng Muria Kudus, Merambah Pasar Mancanegara

Biola buatan Ngatmin asal lereng Gunung Muria tepatnya di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus kini telah dikenal luas.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/ Rifqi Gozali
Ngatmin tengah memainkan biola bambu buatannya di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Biola buatan Ngatmin asal lereng Gunung Muria tepatnya di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus kini telah dikenal luas.

Produk kreatif lelaki berusia 47 tahun ini tidak hanya merambah ke berbagai kota besar di Tanah Air, bahkan produknya sudah sampai ke mancanegara.

“Saya pernah mengirim biola buatan saya sampai sampai ke Hongkong dan Malaysia,” ujar Ngatmin saat ditemui di kediamannya Jumat (8/3/2024).

Di kediamannya terdapat etalase berisi sejumlah biola yang tertata rapi. Di sampingnya terdapat meja yang dipenuh-sesaki miniatur biola dan menara Kudus.

Sementara di meja tamu masih terdapat barisan biola yang belum terpasang dawai. Semua itu merupakan produk kreatif dari tangan dingin Ngatmin.

Koleksi biola bambu buatan Ngatmin di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.
Koleksi biola bambu buatan Ngatmin di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. (Tribun Jateng/ Rifqi Gozali)

Sebagai bukti, Ngatmin juga memainkan biola. Dengan penuh konsentrasi tangan kirinya memegang leher biola yang bertumpu pada pundak.

Sedangkan tangan kanannya memegang penggesek biola yang siap diadu dengan dawai. Tanpa aba-aba Ngatmin memainkan satu lagu Tanah Airku.

Di tengah-tengah memainkan lagu, dia tampak terpejam penuh konsentrasi saat memainkan biolanya. Suaranya pun menyeruak memenuhi seiri ruang tamu.

“Jadi tidak hanya bisa bikin biola, setidaknya saya paham cara mainnya meskipun masih sangat dasar. Saya juga harus tahu tangga nada biola,” kata Ngatmin.

Karir Mbah Min sebelum dia dikenal sebagai pembuat biola bambu dari lereng Gunung Muria dimulai dari seorang tukang kayu.

Mula-mula saat dia berusia 17 tahun memilih untuk belajar menukang di sebuah usaha mebel di Jepara.

Seiring berjalannya waktu, Mbah Min pun akhirnya merantau ke Bogor pada 2009. Di sana dia memiliki kerabat yang menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor. Dari kerabatnya itulah akhirnya dia mengenal biola.

Kerabat Mbah Min di Bogor itu mengampu sebuah les musik biola. Keahlian Mbah Min di bidang kayu pun ditantang oleh kerabatnya untuk membuat biola.

Mbah Min menyanggupi meskipun pada mulanya dia gagal membuat biola.

Bagaimana tidak, alat musik itu tidak pernah masuk dalam pikirannya. Apalagi memainkan bahkan sampai membuatnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved