Berita Regional
Inil Daftar Desa dan Kecamatan yang Disebut-sebut Bekas Daerah Selat Muria yang Hilang
Inilah daftar desa dan kecamatan yang disebut-sebut bekas daerah selat muria yang hilang. Kabupaten Kudus 1. Kecamatan Undaan
Penulis: Awaliyah P | Editor: galih permadi
Inil Daftar Desa dan Kecamatan yang Disebut-sebut Bekas Daerah Selat Muria yang Hilang
TRIBUNJATENG.COM - Inilah daftar desa dan kecamatan yang disebut-sebut bekas daerah selat muria yang hilang.
Selat Muria, wilayah perairan yang kini menjadi bagian daratan Jawa Tengah.
Dahulu, Selat Muria memisahkan daratan utara Jawa Tengah dengan Gunung Muria.
Namun, pada abad ke-17, perairan ini berubah menjadi daratan yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Kudus, Grobogan, Pati, dan Rembang.
Berikut daftar desa dan kecamatan yang disebut terbentuk dari selat muria yang hilang
Kabupaten Kudus
1. Kecamatan Undaan
2. Kecamatan Mejobo
3. Kecamatan Kaliwungu
4. Kecamatan Jekulo
Kabupaten Jepara
1. Kecamatan Mayong
Desa Kuanyar
Desa Paren
2. Kecamatan Nalumsari
Desa Magangan
Desa Blimbingrejo
Desa Dorang
Desa Pringtulis
Desa Tunggulpandean
Desa Gemiring Lor
Dukuh Gemiring Kidul
Dukuh Jatisari
3. Kecamatan Welahan
Desa Karanganyar
Desa Gedangan
Desa Ujungpandan
Desa Teluk Wetan
Desa Kendengsidialit
Desa Sidigede
Desa Kalipucang
Desa Guwosobokerto
4. Kecamatan Donorejo
Desa Clering
Desa Bandungharjo
5. Kecamatan Keling
Desa Bumiharjo.
Sejarah Selat Muria
Jalur perdagangan dan transportasi di Selat Muria telah menjadi jantung kehidupan ekonomi dan politik pada masa lalu.
Catatan sejarah China mencatat Pulau Muria kala itu merupakan pusat kegiatan politik dan ekonomi.
Terutama saat Kartikeya Singha memimpin Kalingga.
Pulau ini menjadi pusat perhatian, di mana lalu lintas ekonomi dan politik berpusat di sekitar Selat Muria.
Perubahan Alam
Sejarah Selat Muria menyimpan cerita tentang bagaimana sebuah wilayah perairan berubah menjadi daratan yang subur.
Pada abad ke-IX, ketika kerajaan Mataram kuno mulai berkembang, daratan Kudus mulai terbentuk dari proses sedimentasi.
Proses sedimentasi itu terjadi melalui sungai-sungai yang mengalir ke Selat Muria.
Pendangkalan yang terjadi secara bertahap ini, akhirnya mengubah Selat Muria menjadi daratan.
Pendangkalan diketahui cepat terjadi rata-rata 30 meter per tahun.
Sejarah Selat Mulia dan Kaitannya dengan Banjir 2024
Banjir bandang yang melanda wilayah Demak hingga Kudus dan Grobogan diyakini memiliki kaitan dengan sejarah Selat Muria.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, selat ini dulunya merupakan jalur perdagangan antara Pulau Muria dan Pulau Jawa.
Namun, endapan fluvial dari sungai-sungai seperti Serang, Tuntang, Juwana, Jragung dan Lusi menyebabkan pendangkalan.
Pendangkalan ini tentu saja menghambat lalu lintas kapal-kapal besar.
Pusat perdagangan kemudian dipindahkan ke Jepara.
Sementara itu, pendangkalan semakin memburuk hingga Selat Muria tak lagi dapat dilalui kapal-kapal perdagangan.
Bukti Adanya Selat Muria
Bukti bahwa Selat Muria pernah ada di masa lampau dapat ditemukan melalui penemuan fosil hewan laut di Situs Purbakala Patiayam, Kudus.
Selain itu, keberadaan Selat ini juga memengaruhi kota Demak yang menjadi pusat pelabuhan yang ramai.
Di sekitar Selat Muria, terdapat beberapa pelabuhan kecil.
Namun, karena adanya konflik politik, komoditas dari daerah sekitar Selat Muria beralih ke Pelabuhan Sunda Kelapa.
Bekas keberadaan Selat Muria juga terlihat dari Situs Medang di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, di mana ekskavasi menemukan jejak hunian kuno serta temuan seperti fragmen gerabah, keramik, dan perhiasan berbahan emas.
Situs Medang diduga merupakan hunian kuno di sisi selatan Selat Muria.
Penemuan fosil hewan laut di Situs Patiayam, Kudus, juga menjadi bukti keberadaan Selat Muria.
Fosil-fosil ini, seperti moluska, ikan hiu, penyu, dan buaya, diperkirakan berumur 800.000 tahun.
Selat Muria semakin dangkal setelah abad ke-17, sehingga kapal tidak bisa melintasinya.
Namun, perahu-perahu kecil masih dapat melaluinya dari Demak hingga Juwana saat musim hujan.
Penelitian pada tahun 1996 oleh Lombard menunjukkan bahwa air laut dari Selat Muria masih terperangkap di dataran Jawa dan dikenal sebagai Bledug Kuwu.
Hilangnya Selat Muria dianggap sebagai kemunduran bagi Kerajaan Demak yang pernah berjaya.
Pendangkalan Selat membuat Demak, yang dulunya berada di tepi Selat Muria, berubah menjadi kota yang dikelilingi daratan. (*)
| Kotak Sumbangan Digondol Maling, Pengantin Menangis Kehilangan Rp15 Juta |
|
|---|
| Detik-detik Menegangkan 12 Mahasiswi Terjebak di Lift Kampus Selama 1 Jam |
|
|---|
| UPDATE Pelecehan Seksual Fakultas Teknik dan Teknologi IPB, 16 Mahasiswa Diskors 1 Semester |
|
|---|
| Viral Bentrokan di Turnamen Sepak Bola Sapudi Cup, Pemain, Ofisial dan Suporter Saling Pukul |
|
|---|
| Geger Oknum Polisi Digerebek Diduga Selingkuh dengan ASN, Warga Emosi Hingga Rusak Mobil |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Sejarah-Selat-Muria-Pemisah-Pulau-Jawa-dan-Pulau-Muria-Hilang-Jadi-Daratan.jpg)