Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jepara

BMKG akan Berikan Edukasi Nelayan Jepara Kenali Cuaca dan Peta Gelombang

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI akan membantu nelayan di Jepara untuk mengenali kondisi cuaca dan peta gelombang. 

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG/IST.
Kepala BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang, Taruna Mona Rachman dalam audiensi di ruang kerja Sekda Jepara, Senin (27/5/2024). 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI akan membantu nelayan di Jepara untuk mengenali kondisi cuaca dan peta gelombang. 

Pengetahuan itu akan diberikan dalam kegiatan bertajuk Sekolah Lapang Nelayan Cuaca (SLNC). 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mengapresiasi dan berterima kasih atas rencana tersebut.

“Terima kasih. Tentu kami mendukung program ini. Kami tunggu,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jepara Edy Sujatmiko. 

Hal itu dia sampaikan saat menerima Kepala BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang, Taruna Mona Rachman dalam audiensi di ruang kerja Sekda Jepara, Senin (27/5/2024)

Sekda menyebut menyebut, sekolah cuaca akan sangat membantu nelayan memaksimalkan potensi perikanan di Jepara yang memiliki garis pantai sepanjang 83 kilometer, di luar Karimunjawa. 

Bahkan, ke depan Edy Sujatmiko meminta ada sekolah cuaca untuk petani garam seiring banyaknya tambak garam di Kecamatan Kedung.

Berdasar data yang ada di Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Jepara, luas tambak garam di Jepara pada tahun 2023 mencapai 562, 57 hektare. 

Tambak ini dikelola 496 petambak garam. 

Produksi garam tahun selama tahun 2023 mencapai 56.563 ton.

Dalam audiensi itu, Kepala BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang Taruna Mona Rachman hadir bersama jajarannya disertai Kepala Diskan Kabupaten Jepara Farichah Elida, juga beserta jajarannya.

Taruna mengatakan, SLNC direncanakan berlangsung pada 13 Juni 2024 di Gedung Ratu Shima Jepara. 

Pesertanya sebanyak 100 orang nelayan. 

“Banyak nelayan yang belum mendapat informasi mengenai cuaca. Masih banyak yang menerapkan ilmu titen,” kata Taruna.

Sekolah cuaca itu, kata dia, sangat penting karena telah terjadi perubahan iklim yang berpengaruh banyak terhadap rutinitas cuaca. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved