Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Ke China, Ketua PP MAJT Yakin Islam Akan Berkembang Pesat

Jajaran Pengurus Pengelola (PP) Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) melakukan kunjungan ke China atas undangan Pemerintah Tiongkok melalui Konjen Republik

Editor: m nur huda
Ist
Ketika rombongan Pengurus Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) berkunjung ke China pada 18- 24 Mei 2024 lalu atas undangan Pemerintah Cina melalui Konjen Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Surabaya. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Belum lama ini, jajaran Pengurus Pengelola (PP) Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) melakukan kunjungan ke China atas undangan Pemerintah Tiongkok melalui Konjen Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Surabaya.

Pada kunjungan 18- 24 Mei 2024 tersebut, rombongan PP MAJT terdiri dari Ketua PP MAJT Prof Dr KH Noor Achmad, Sekretaris PP MAJT Drs KH Muhyiddin, Ketua Bidang Ketakmiran PP MAJT KH Hanief Ismail, dan Sekretaris Bidang Hubungan Antar lembaga/Direktur Pesantren PP MAJT Dr M Syaifudin MA.

Ketua PP MAJT Prof Dr KH Noor Achmad mengungkapkan, setelah mengunjungi Kota Urumqi, Provinsi Xinjiang, ia yakin Islam akan berkembang pesat di China di waktu mendatang. Sebab, terdapat harmonisasi antara hubungan agama dengan budaya setempat.

Jajaran Jengurus Pengelola (PP) Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ketika kunjungan ke salahsatu masjid di China.
Jajaran Jengurus Pengelola (PP) Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ketika kunjungan ke salahsatu masjid di China. (Istimewa)

"Saya yakin Islam di China akan besar selagi tidak dibenturkan antara Islam dengan negaranya. Maka biarlah Islam beradaptasi dengan budaya dan pemerintahannya," katanya, Minggu (2/5/2024).

Di Kota Urumqi terdapat 300 masjid dan puluhan pesantren yang metode pembelajaran serta materi yang dikaji hampir mirip di Indonesia. Kemudian ada sekitar 10.000 masjid yang ada di provinsi Xinjiang.

Di Urumqi, rombongan PP MAJT berkunjung ke Masjid Baida yang merupakan masjid tertua di Kota Urumqi, Sekolah Seni Xinjiang, Museum Muqam untuk melihat alat musik tradisional tertua, Miniatur Smart Village, bazar internasional Urumqi, perusahaan pekan ternak, dan perguruan tinggi Islam.

Menurut Prof Noor Achmad, Pemerintah China melindungi setiap warganya baik yang beragama maupun yang tidak beragama, sesuai dengan konstitusi negara. Selain itu negara memperhatikan biaya kebutuhan umat Islam semisal dana operasional masjid Baida. Negara memperhatikan dengan sangat baik peninggalan budaya Islam, misalnya, kesenian Muqam.

Dia juga melihat Cina memperhatikan pendidikan keagamaan Islam. Terbukti, salah satu perguruan tinggi (Insitut Islam Xinjiang) yang dikunjungi memiliki bangunan yang megah, luas, asramanya pun bersih dan rapi yang berdiri di areal seluas 10 Hektar.

"Ini merupakan kampus baru dengan biaya pembangunan 279 juta Yuan. Kurikulum, pengajaran di Institut Islam Xinjiang sama persis yang ada di Indonesia bahkan di belahan bumi lainnya yang mengikuti ajaran ahlussunah wal jamaah. Ada ilmu fiqih, tafsir, hadis, gramatika Arab (nahwu - shorof), tarikh, ekonomi dan hukum," ungkapnya.

Prof Noor Achmad mengatakan, Rektor IIX Syekh Abdul Raqieb Tumniyaz merupakan alumni universitas Al-Azhar Kairo Mesir yang dalam pemaparannya menegaskan bahwa Islam yang diajarkan di kampus ialah moderat dan inklusif.

Selain Xinjiang, rombongan PP MAJT juga berkunjung ke Sichuan. Di Sichuan, rombongan diajak berkeliling ke kebun binatang Panda yang berada di Kota Chengdu (ibukota Sichuan).

"Penataan kebun binatang di Chengdu demikian maju. Dari awalnya enam panda, kini menjadi 180 ekor yang ditempatkan di lahan seluas 92 hektar dan 96 persen tertutup tanaman. Di sinilah pusat penangkaran panda di dunia. Ini menunjukkan bagaimana China mengelola legacy alam dan melindungi satwa langka dengan baik," bebernya.

Di Sichuan, mereka dijamu makan siang oleh pemprov setempat yang diwakili Mr He Guang Xian (Wakadis Urusan Luar Negeri). Pada kesempatan itu, Prof Noor Achmad menyampaikan tentang profil MAJT dengan visi misi, termasuk aspek kemajemukan yang dimiliki masyarakat Jawa Tengah.

KH Hanief Ismail menambahkan, secara umum materi yang dikaji di pondok pesantren di China hampir mirip dengan yang diajarkan di pesantren-pesantren di Indonesia. Selain itu, ada tambahan kurikulum mengenai terorisme.

"Pendidikan pesantren di sana tidak ada bedanya dengan di sini. Hanya saja kalau di sini fiqihnya madzhab Syafi'i sedangkan di sana Hanafi," ujarnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved