Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Serunya Mini Mural Fest: Saat Musik Indie dan Visual Estetik "Sembunyi" di Perkampungan Semarang

Ananda Rizky, seorang remaja, tampak asyik berdiri di sudut gang Kampung Patemesan, Pekojan, Semarang, Minggu (12/4/2026) sore. 

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: raka f pujangga
TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D
FESTIVAL - Para Warga mulai memadati Kampung Petemesan untuk melihat Festival Citizen Gigs x Go Ahead Music. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Ananda Rizky, seorang remaja, tampak asyik berdiri di sudut gang Kampung Patemesan, Pekojan, Semarang, Minggu (12/4/2026) sore. 

Kali ini Ananda datang untuk menikmati Citizen Gigs Patemesan, terdapat penampilan band musik yang akan dimulai pukul 19.00 WIB, sembari menunggu dia juga sempat mencoba pembacaan kartu tarot sekadar iseng.

“Seru sih, jarang-jarang ada acara kayak festival gini di kampung. Tadi sempat coba tarot juga, iseng aja,” ujarnya.

Baca juga: Festival Mudik Wonosobo 2026 Picu Lonjakan Kunjungan Wisata, Perputaran Ekonomi Capai Rp 4,2 Miliar 

Baginya, suasana festival di gang sempit justru terasa lebih dekat dan berbeda dibandingkan konser pada umumnya.

Mini Mural Fest Patemesan memang menghadirkan pengalaman yang tidak biasa. 

Selain menampilkan mural di dinding kampung, festival ini juga menggelar pertunjukan musik bertajuk Post Citizen Gigs di tengah permukiman padat penduduk.

Gang buntu yang biasanya sepi, berubah menjadi ruang pertunjukan yang dipenuhi warga dari berbagai kalangan.

Kurator Program Hysteria Artlabs, Winatra Wicaksana, mengatakan konsep ini sengaja dirancang untuk menghidupkan ruang-ruang alternatif di tengah kota.

“Karakter kampung ini unik, karena bentuknya seperti kantong dan jalan buntu. Justru itu yang kita lihat punya potensi jadi venue alternatif,” ujarnya.

Menurutnya, ruang pertunjukan tidak harus selalu berada di lokasi besar atau komersial. 

Kampung dengan kepadatan tinggi pun bisa menjadi ruang kreatif yang inklusif.

Untuk mendukung konsep tersebut, panggung dibuat secara sederhana dan fleksibel. 

Tim kreatif merancang panggung dari dua kendaraan roda tiga yang digabungkan, sehingga bisa digunakan di berbagai lokasi.

“Panggung ini mobile, jadi kita bisa bikin festival di mana saja, termasuk di gang seperti ini,” katanya.

Pertunjukan musik yang dihadirkan juga beragam, mulai dari DJ set hingga band indie. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved