Program PINTAR
Mengapa Transisi PAUD-SD Harus Menyenangkan?
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berdasarkan konsensus internasional yang termuat dalam Buklet Penguatan Transisi PAUD-SD
Oleh: Muhchamad Haris Tarmidi, M.Pd., Guru SDN 1 Puguh Kab Kendal &
Fasilitator Tanoto Foundation
PENGERTIAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berdasarkan konsensus internasional yang termuat dalam Buklet Penguatan Transisi PAUD-SD yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, memaknai usia dini sebagai usia 0-8 tahun. Oleh karena itu, proses pembelajaran di PAUD dan kelas awal SD perlu serupa karena usia 7-8 tahun merupakan masa awal anak bersekolah di Sekolah Dasar (SD).
Mengapa hal ini begitu penting?
Usia dini adalah periode emas, di mana otak anak berkembang pesat dan menyerap informasi dengan sangat cepat. Pengalaman positif pada masa ini akan membentuk fondasi yang kuat untuk perkembangan selanjutnya. Di masa ini, anak-anak belajar paling baik melalui pengalaman yang menyenangkan dan bermakna. Ketika transisi PAUD-SD menyenangkan, anak-anak akan lebih termotivasi untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung memang penting, tetapi bukan satu-satunya indikator kesiapan anak masuk SD. Kemampuan sosial, emosional, dan motorik juga sangat krusial. Transisi yang menyenangkan memungkinkan anak-anak mengembangkan seluruh aspek dirinya, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Aturan baru dari Kemendikbudristek, yaitu Gerakan Merdeka Belajar, mendorong pembelajaran yang lebih fleksibel, kreatif, dan berpusat pada peserta didik. Transisi PAUD-SD yang menyenangkan sejalan dengan semangat Merdeka Belajar. Pemerintah juga telah menghapus tes calistung sebagai syarat masuk SD, memberikan kesempatan bagi semua anak untuk belajar dengan ritme masing-masing tanpa tekanan yang berlebihan.
Mengingat betapa pentingnya periode emas pada masa anak usia dini, peran orang tua sangat penting. Orang tua harus mendukung anak selama masa transisi dengan menciptakan lingkungan yang positif dan penuh kasih sayang, membantu anak merasa lebih nyaman dan percaya diri.
Peran sekolah juga penting. PAUD dan SD harus bekerja sama dalam mempersiapkan anak-anak untuk transisi. Komunikasi yang baik antara kedua lembaga pendidikan dapat membantu memastikan kelancaran proses transisi.
Pengenalan pembelajaran pada masa awal sekolah di SD membangun fondasi yang merupakan bentuk penyiapan anak dengan lingkungan barunya. Kemampuan fondasi bisa dimulai dengan mengenalkan nilai agama dan budi pekerti, diikuti dengan keterampilan sosial dan bahasa. Kematangan emosi peserta didik perlu diperhatikan agar mereka dapat berkegiatan di lingkungan belajar melalui hal-hal dasar, seperti sabar menunggu antrean dan disiplin menaati waktu pembelajaran.
Jangan lupa juga menekankan kegiatan yang bermakna dalam belajar, seperti mengajukan pertanyaan, mencoba kembali ketika mengalami kegagalan, serta meminta maaf dan bertanggung jawab atas kesalahan. Penguatan keterampilan motorik dan perawatan diri juga penting, begitu pula dengan kematangan kognitif melalui kegiatan seperti memancing gagasan peserta didik dan belajar konsep waktu seperti kemarin, hari ini, atau besok.
Membaca adalah proses bertahap, mulai dari membedakan bunyi hingga membunyikan lambang yang berupa gambar dan aksara. Oleh karena itu, pengucapan yang tepat akan membantu anak melafalkan lambang yang ditemuinya. Proses belajar membaca dimulai sebelum anak mengenal huruf A-Z. Mengajarkan literasi kepada anak bukanlah dengan mulai menghafal huruf, tetapi melalui kegiatan bercerita dan bertukar informasi yang dapat melatih kemampuan awal membaca dan pemahaman makna kata.
Kemampuan literasi dimulai dari kemampuan anak berkomunikasi, yaitu bertukar informasi melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Kemampuan ini dapat ditumbuhkan melalui kegiatan bercakap-cakap, menyimak lagu dan cerita, bermain, dan bersosialisasi, seiring dengan pengenalan aksara, kata, menulis, dan membaca.
Mengajarkan anak konsep numerasi juga penting. Anak usia dini dapat membangun pemahaman dari pengalaman sehari-hari terkait berbagai konsep dan strategi matematika, misalnya ketika ia memiliki tiga kelereng dan memberikannya dua kepada temannya untuk memahami konsep pengurangan.
Penggunaan bahan konkret efektif untuk mendorong anak berpikir dan membuat hubungan antara objek dan ide matematika abstrak. Yang utama adalah membangun ide tersebut menggunakan pertanyaan pemantik yang membantu anak menemukan pemahamannya sendiri, seperti “Menurutmu mana yang lebih besar? Apa yang terjadi bila kita menumpahkan isi air di ember ini ke dalam gelas? Cukup tidak ya?”
Guru dan orang tua perlu memberikan porsi yang lebih besar dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut sehingga aktivitas belajar anak tidak hanya bersifat melakukan kegiatan, tetapi juga mengolah informasi dengan panduan pertanyaan pemantik.
Transisi PAUD-SD yang menyenangkan bukan sekadar slogan, tetapi komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi anak. Dengan menciptakan lingkungan belajar yang positif, mendukung pengembangan holistik anak, dan mengikuti pedoman yang telah ditetapkan, kita dapat membantu anak-anak tumbuh menjadi individu yang cerdas, kreatif, dan bahagia. (*)
| Pemkab Kendal Sosialisasikan Perbup Literasi dan Numerasi, Dorong Transformasi Pendidikan Sejak Dini |
|
|---|
| SMPN 31 Semarang Luncurkan Program Duta OTSAB untuk Meningkatkan Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah |
|
|---|
| Guru SDN Sadeng 02 Semarang Mengajarkan Logika Berpikir melalui Unplugged Coding Literacy |
|
|---|
| Sinergi Lintas Sektor untuk Menumbuhkan Budaya Numerasi Sejak Dini |
|
|---|
| Tanoto Foundation Fellowship Program 2025 Kembali Dibuka, Siap Cetak Pemimpin Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Muhchamad-Haris-Tarmidi-MPd-Guru-SDN-1-Puguh.jpg)