Minggu, 31 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Regional

Sosok Pasutri Tinggal Serumah dengan Sapi Bukan Orang Sembarangan, Pernah Bertaruh Nyawa Demi NKRI

Inilah sosok Seroja Sudarno (77), veteran yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk membela Indonesia, kini tinggal serumah dengan sapi peliharaannya.

Tayang:
Editor: raka f pujangga
KOMPAS.COM/SUKOCO
Veteran Seroja Sudarno bersama istrinya Hartini tinggal seatap dengan sapi peliharananya karena tidak memiliki cukup biaya untuk melanjutkan membangun rumahnya di Desa Sumberdodol, Kabupaten Magetan. Kandang sapi terletakkan di tengah ruangan tersebut untuk menjaga sapi agar tidak dicuri orang. Selama mejadi TNI AD sejak tahun 1964 Sudarno 4 kali menjalani operasi di Timor Timur dan mengalami luka tembak di bagian perut dan kaki. 

Hartini, istri Sudarno mengaku memiliki 2 anak  yang saat ini sudah berkeluarga. Kedua anaknya tinggal di Sragen dan Jakarta. Dikatakan Hartini, anaknya jarang pulang karena sibuk kerja dan telah memiliki keluarga masing-masing. Biasanya, ia berkomunikasi dengan mereka melalui sambungan telepon.

“Anak saya dua, cucu saya lima. Saya tinggal berdua saja karena jarang pulang ke rumah, paling ya telpon karena sibuk kerja,” kata Hartini.

Hartini mengaku memelihara sapi merupakan pekerjaan sampingan untuk mengisi kegiatan dan  menjaga kebugaran tubuhnya.

Setiap pagi dia yang mencari rumput untuk pakan sapi peliharaannya.

Suaminya tidak bisa lagi mencari rumput karena untuk berjalan kini harus dibantu kruk.  

“Saya tiap pagi bawa jarik untuk gendong rumput. Rumputnya di sekitar rumah saja cukup banyak. Memelihara sapi itu agar kami tidak nganggur, biar sehat,  kalau tidak beraktivitas malah sakit,” ucapnya.

Tertembak di Timor Timur

Sudarno mengaku pensiun sebagai anggota TNI AD dengan pangkat Sersan Mayor. 

Saat menjadi anggota prajurit Batalyon 501 Banteng Raiders Madiun, ia sempat bertugas di Timor Timur 4 kali. 

Pada pengiriman tugas ke Timor Timur yang kedua di tahun 1976 dia tertembak di bagian perut dan kaki oleh gerombolan pengacau keamanan.

“Saya bertugas berjaga di gereja, gereja diserang, kondisinya porak poranda, pohon pada tumbang. Saya selamat tidak tertimpa pohon. Saat duduk, saya merasa ada yang hangat di bagian perut.  Pas diraba ternyata darah sudah banyak keluar,” kenangnya.

Pada saat itu dari satu peleton pasukan yang dikirim ke Timor Timur ada 9 orang yang tertembak.

Dari 9 orang, 7 rekannya meninggal dunia saat menjalani perawatan.

“Teman saya yang 7 itu meninggal saat dirawat di Jakarta, hanya saya dan satu teman saya waktu itu yang masih hidup,” imbuh Sudarno.

Setelah kejadian tersebut, Sudarno kembali ke Timor Timur.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved