Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Pengobatan TBC RO Kini Hanya 6 Bulan, Tingkat Kesembuhan Lebih Baik dengan Efek Samping Ringan

Pengobatan tuberkulosis resistan obat (TBC RO) kini hanya berdurasi enam bulan. Pengobatan ini memiliki tingkat kesembuhan yang lebih baik dan efek

Tayang:
TRIBUN JATENG / EKA YULIANTI FAJLIN
Yayasan KNCV Indonesia menggelar workshop kampanye panduan pengobatan baru TBC RO berdurasi enam bulan yang digelar, di Hotel Novotel Semarang, Selasa (3/9/2024).  

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pengobatan tuberkulosis resistan obat (TBC RO) kini hanya berdurasi enam bulan. Pengobatan ini memiliki tingkat kesembuhan yang lebih baik dan efek samping lebih ringan. Hal itu dibahas dalam workshop kampanye panduan pengobatan baru TBC RO berdurasi enam bulan yang digelar oleh Yayasan KNCV Indonesia, di Hotel Novotel Semarang, Selasa (3/9/2024). 

Workshop di Semarang ini merupakan workshop kelima setelah sebelumnya digelar di Jakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya. 

Associate Director Yayasan KNCV Indonesia, Yeremia PM Runtu memaparkan, workshop ini bertujuan untuk memberikan kabar baik terkait kemajuan pengobatan baru untuk TBC RO selama enam bulan. Pengobatan ini sudah bisa didapatkan di Jawa Tengah, termasuk Kota Semarang. 

"Pengobatan TBC RO dulu 24 bulan, maju jadi 9 - 11 bulan. Berkat kemajuan pengetahuan dan teknologi maju jadi enam bulan," terang Yeremia. 

Dari jumlah obat yang diminum, sebut dia, juga semakin sedikit. Sebelumnya, pasien TBC RO harus mengonsumsi obat hingga 20 butir sekali minum. Dengan panduan terbaru, bedaquiline, pretomanid, linezolid dan moksifloksasin (BPaLM) dan Bedaquiline, Pretomanid, dan Linezolid (BPaL), pasien kini hanya minum lima hingga enam butir. 

Pengobatan ini dinilai memiliki tingkat kesembuhan lebih baik dengan efek samping lebih ringan. Di sisi lain, durasi pengobatan lebih pendek. 

"Dulu 20 sekian butir sekali minum, sekarang hanya lima hingga enam butir. Jadi, efek samping lebih ringan, tingkat kesembuhan lebih baik, durasi pengobatan lebih pendek," paparnya. 

Yeremia menyebut, sesuai prediksi perencanaan Kementerian Kesehatan terkait program TBC Nasional, 80 - 90 persen pasien TBC RO di indonesia lini pertama akan mendapatkan BPaLM dan BPaL. Sehingga, diharapkan ini bisa dinikmati hampir sebagian besar pasien. 

"Tadi disampaikan, di RS Kariadi sudah ada 10 pasien. Satu, dua, orang yang sembuh," sebutnya.

Yeremia menekankan, pengobatan ini sudah ada di Semarang. Pihaknya berharap kabar ini tidak hanya diketahui di kalangan orang kesehatan melainkan juga masyarakat umum. 

Dari sisi tenaga kesehatan, disebutkan, sudah dilatih. Selain itu, fasilitas kesehatan (faskes) juga sudah disiapkan. Hanya saja, belum seluruh kalangan masyarakat mengetahui hal ini. 

"Dulu kita tahunya TBC RO terjadi karena pengobatan TBC sensitif obat tidak patuh atau tidak sembuh. Kalau sembuh, sempet kambuh. Kambuhnya jadi resisten. Tapi, saat ini ada yMg primer. Sakit TBC pertama kali langsung resisten obat," jelasnya. 

Dia menjelaskan, ada beberapa dampak jika TBC tidak diobati, diantaranya kematian. Kematian TBC mencapai satu juta orang setiap tahun di Indonesia. Selain itu, jika pengobatan tidak tuntas bisa menimbulkan resisten obat. Di lain sisi, bisa menurunkan produktifitas. 

"Banyak cerita, sakit TB dipecat, cerai dari pasangan diusir. Jadi, TBC tidak hanya isu kesehatan, tapi juga sosial ekonomi," ujarnya. (eyf)

Baca juga: Video Gugatan Dico-Ali, Puluhan Karangan Bunga Serbu Kantor Bawaslu Kendal

Baca juga: Hari Pertama Musyawarah Tertutup Gugatan Dico - Ali Pilkada Kendal Tak Mufakat, Dilanjut Besok

Baca juga: Hadiri Tasyakuran HUT Polwan Ke-76, Ini Pesan Kapolres Jepara Pada Seluruh Personel Polwan

Baca juga: MPR RI dan LDII Perkuat Wawasan Kebangsaan, Bidik Indonesia Emas 2045

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved