Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Dilema Petani Kopi Muria: Harga Meroket, Produksi Merosot

Harga jual kopi dari petani di lereng Gunung Muria mengalami lonjakan sampai tiga kali lipat.

|
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: raka f pujangga

TRIBUJATENG.COM, KUDUS – Harga jual kopi dari petani di lereng Gunung Muria mengalami lonjakan sampai tiga kali lipat.

Namun petani tidak sepenuhnya bisa bernapas lega, karena melonjaknya harga tidak sebanding dengan produksi hasil panen yang justru mengalami penurunan.

Salah seorang petani kopi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus Hikmawati Inaya membenarkan hal tersebut. Harga kopi dari petani saat ini mengalami lonjakan yang signifikan.

Baca juga: Pemkab Jepara Bidik Potensi Kopi, Latih Puluhan Warga Jadi Barista Profesional

Dia mencontohkan untuk kopi green bean atau biji kopi yang telah dikeringkan dan dikupas kulitnya saat ini harganya mencapai Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu per kilogram.

“Tahun kemarin untuk biji kopi green bean itu Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu. Sedangkan tiga tahun lalu harganya di kisaran Rp 25 ribu per kilogram. Jadi untuk saat ini naiknya tiga kali lipat,” kata Hikmawati saat ditemui di kebunnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Selasa (10/9/2024).

Penurunan produksi kopi pada tahun ini juga signifikan.

Hikmawati mencontohkan, pada tahun lalu produksi kopi di lahan miliknya seluas 3.300 meter persegi mampu menghasilkan 2,2 ton.

Sedangkan tahun ini di lahan yang sama hanya mampu menghasilkan kopi sebanyak sekitar 1,2 ton.

“Jadi memang produksi turunnya sangat signifikan,” kata Hikmawati.

Penurunan produksi ini ditengarai oleh para petani di lereng Gunung Muria karena faktor cuaca.

Kemarau panjang tahun lalu menjadi faktor yang paling mempengaruhi. 

Di mana saat hujan minim, maka bunga kopi yang seharusnya mengalami proses penyerbukan hingga menjadi buah terganggu.

“Jadi meski harganya tinggi, hasil yang diterima tetap sama karena produksinya memang turun,” kata dia.

Melambungnya harga kopi ini juga membuat Hikmawati harus memutar otak.

Sebab selain petani, dia juga mengolah kopi menjadi produk jadi dalam kemasan. 

Baca juga: Minta Bantuan Dunia, Australia Buru Pria yang Siramkan Kopi Panas ke Bayi 9 Bulan

Pemilik merek Kopi Wilhelmina ini pun harus menaikkan harga kopi kemasannya. 

Sebab, harga bahan baku kopi dari petani mengalami kenaikan.

“Untuk itu Kopi Wilhelmina yang saya buat ini saya naikkan harganya meski tidak signifikan kenaikannya karena memang untuk menjaga konsumen,” kata dia. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved