Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu di Kudus Kelimpungan

Saat ini, kata Nur Rosyid, harga kedelai tembus Rp 10.700 per kilogram. Sementara sebelum lebaran harganya Rp 9.500 per kilogram

|
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muslimah

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Aktivitas para pekerja di sentra produksi tahu di RT 1 RW 2 Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus berjalan normal. Para pekerja telah memiliki tugasnya masing-masing.

Dari 10 pekerja tersebut, mereka ada yang bertugas menggiling kedelai. Ada yang bertugas memasak gilingan kedelai pada tungku uap. Sisanya bertugas mengemas sari kedelai yang telah masak untuk menjadi tahu.

Di balik aktivitas normal produksi tahu tersebut menyimpan kepahitan yang terelakkan. Kedelai sebagai bahan baku tahu harganya terus mengalami lonjakan. Kenaikan harga ini terjadi sejak menjelang lebaran. Sampai saat ini, harga kedelai masih terus mengalami lonjakan.

Pemilik produksi tahu tersebut yaitu Nur Rosyid. Pelaku usaha produksi tahu yang sudah mengawali usahanya sejak 30 tahun lalu tersebut tidak bisa berbuat banyak di balik himpitan lonjakan harga kedelai.

Saat ini, kata Nur Rosyid, harga kedelai tembus Rp 10.700 per kilogram. Sementara sebelum lebaran harganya Rp 9.500 per kilogram.

Baca juga: Perajin Tempe di Jepara Keluhkan Harga Kedelai Melambung, Nur Santo Kurangi Ukuran untuk Bertahan

Baca juga: Sosok KH Muhammad Shalahuddin A Warits yang Baru Saja Menikahi Inayah Wahid, Kuasai 3 Bahasa

“Kenaikan harga kedelai terjadi bertahap. Naiknya bertahap dari Rp 100 rupiah. Tapi terus naik,” ujar Rosyid saat ditemui di tempat produksi tahu miliknya di Desa Ploso, Selasa (7/4/2026).

Dalam sehari, sedikitnya ada sebanyak 3 kuintal kedelai yang dibutuhkan untuk memproduksi tahu. Dari bahan baku sebanyak itu bisa menghasilkan sekitar 9.000 biji tahu dengan harga rata-rata per bijinya Rp 1.000.

Dengan adanya lonjakan harga kedelai, Nur Rosyid tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak bisa menaikkan harga tahu.

Di satu sisi dia juga tidak bisa menyesuaikan ukuran tahu atau memperkecil ukuran. Sebab, sebagai pelaku usaha dia juga perlu mempertahankan pelanggan.

“Tidak bisa menaikkan, kalau dinaikkan konsumen nanti protes. Yang bisa kami lakukan mempertahankan konsumen,” kata Rosyid.

Kedelai yang digunakan sebagai bahan baku tahu merupakan kedelai impor dari Amerika. Meski terjadi lonjakan harga, kata Rosyid, selama ini stoknya masih terbilang aman.

“Stoknya aman cuma harganya terus naik. Tidak tahu itu penyebab kenaikan harganya karena apa,” kata dia.

Ketika disinggung soal bahan baku dari kedelai lokal, Rosyid mengatakan bahwa kedelai lokal sulit ditemui di pasaran. Saat ini yang menguasai stok pasar yaitu kedelai dari Amerika.

“Untuk kedelai dari Amerika kualitasnya juga bagus. Kalau kedelai lokal memang tidak ada ya,” kata dia.

Akibat kenaikan harga kedelai, Rosyid tidak punya pilihan selain bertahan dengan tetap memproduksi tahu meski keuntungannya menurun. Bahkan, kata dia, kadang juga mengalami kerugian.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved