Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Situs Candi di Jateng Jadi Sasaran Program Candi Darling: Ajak Belajar Lingkungan dari Nenek Moyang 

Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) menginisiasi gerakan penghijauan di sejumlah situs bersejarah melalui program Candi Sadar Lingkungan

Penulis: iwan Arifianto | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Iwan Arifianto
Direktur Komunikasi Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara mengungkapkan soal Candi Darling program lingkungan di kawasan situs bersejerah pada launching serial web "Kami Memohon" di Bali, Rabu (18/9/2024) malam. 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) menginisiasi gerakan penghijauan di sejumlah situs bersejarah melalui program Candi Sadar Lingkungan (Candi Darling).

Candi Darling bagian dari gerakan Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) yang bertujuan meningkatkan kepedulian pada lingkungan dengan belajar dari cara hidup nenek moyang yang harmonis dan tidak merusak alam.

Direktur Komunikasi Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara mengatakan, Candi Darling dibentuk selepas Siap Darling (2019), gagasan ini muncul karena gerakan lingkungan anak muda  seharusnya tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia yang mana representasi sejarah di antaranya berada di situs Candi.

"Kami lantas melaksanakan gerakan Candi Darling yakni gerakan penghijauan di kawasan Candi dan situs bersejarah," ujarnya selepas launching serial web "Kami Memohon" di Bali, Rabu (18/9/2024) malam.

Baca juga: Candil ex-Serieus Band : Pohon juga Manusia

Bersumber dari situs resmi BLDF, hingga Agustus 2024, terdapat 6 kawasan dan 12 candi yang telah dihijaukan di antaranya Candi Prambanan (Sleman, Yogyakarta), Candi Situs Ratu Boko & Idjo (Sleman, Yogyakarta) ,  Candi Sambisari (Sleman, Yogyakarta), Candi Barong(Sleman, Yogyakarta) , Candi Banyunibo (Sleman, Yogyakarta)  , Candi Dieng (Banjarnegara, Jawa Tengah, Candi Gedung Songo (Kabupaten Semarang, Jawa Tengah), Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Trowulan, Mojokerto (Jawa Timur), dan Candi Muarajambi (Provinsi Jambi, Pulau Sumatera).

Selama pelaksanaan Candi Darling, Mutiara mengaku selalu berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) untuk menentukan jenis pohon dan yang ditanam dan titik-titik lokasi penanaman.

Berhubung menjadi kawasan cagar budaya, proses penamaan di Candi tidak boleh sembarangan.

Dia mengatakan, kawasan candi dalam radius tertentu hanya bisa ditanami oleh jenis pohon-pohon khusus berupa jenis endemik dan langka yang tidak merusak candi.

Semisal jenis pohon sawo kecik (Manilkara kauki) dan pohon Maja (Aegle marmelos) yang masuk sebagai jenis tanaman langka.

Di luar kawasan Candi bisa ditanam Tabebuya (Handroanthus chrysotrichus) dan semak berbunga untuk mempersolek kawasan sekitar Candi.

"Bibit pohon langka diambil dari Pusat Pembibitan Tanaman di  Kudus. Untuk di luar Jawa, kami kerjasama juga sama petani lokal. Setelah penanaman, kami lakukan perawatan setidaknya 3 tahun sebelum diserahkan ke BLK selaku pengelola kawasan situs," ujarnya.

Menukil data dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation, selama gerakan Siap Darling dan Candi Darling 39.600 Pohon dan semak berbunga tertanam di kawasan situs sejarah dan candi-candi di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jambi.

Menurut Mutiara, gerakan yang diaktivasi oleh para anak muda ini menjadi estafet gerakan serupa yang dilakukan lembaganya sejak tahun 1999.

Selama lima tahun terakhir, BLDF baik melalui Siap Darling dan Candi Darling telah mengajak sebanyak 10.500 mahasiswa dari 240 kampus di daerah Jawa, Bali Lombok, Madura dan Sumatera.

"Gerakan ini menyasar anak muda karena penghijauan sudah harus ditangani oleh generasi selanjutnya. Tujuan gerakan anak muda ini lebih menciptakan ekosistem kesadaran terhadap lingkungan secara umum," tandasnya. (Iwn)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved