Berita Jawa Tengah
Neraca Perdagangan Barang di Jawa Tengah Bulan September 2024 Alami Defisit
Neraca perdagangan barang pada September 2024 di Jawa Tengah mengalami defisit sebesar US$ 327,27 juta.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat neraca perdagangan barang pada September 2024 mengalami defisit sebesar US$ 327,27 juta.
Kepala BPS Jateng, Endang Tri Wahyuningsih menyebutkan, bulan sebelumnya, neraca perdagangan sempat mengalami surplus.
"Bulan sebelumnya sempat mengalami surplus, tetapi untuk September ini, Jawa Tengah mengalami defisit," kata Endang pada pemaparan yang digelar secara daring, Selasa (15/10/2024).
Baca juga: Diskominfo bersama BPS dan Forwaken Jalin Kebersamaan dengan Fun Futsal
Baca juga: DEMA FEBI UIN Saizu Kunjungi BPS Banyumas: Eksplorasi Peluang Karier dan Pemahaman Data Statistik
Pada laporan tersebut, Endang menjelaskan terdapat tiga negara penyumbang surplus terbesar.
Pertama adalah Amerika Serikat, dengan penyumbang surplus utama berupa pakaian dan aksesori rajutan (HS 61), pakaian dan aksesori bukan rajutan (HS 62), serta perabotan, lampu, dan alat penerangan (HS 94).
"Neraca perdagangan ke Amerika Serikat tercatat sebesar US$ 302,80 juta atau surplus."
"Jadi, ekspor kita ke Amerika Serikat lebih besar daripada impornya," sebutnya.
Selanjutnya, Jepang juga menunjukkan surplus sebesar US$ 63,30 juta.
Penyumbang terbesar dari Jepang adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), diikuti oleh pakaian dan aksesori bukan rajutan (HS 62) dan pakaian dan aksesori rajutan (HS 61).
Sementara itu, Belanda mencatat surplus sebesar US$ 22,66 juta, dengan penyumbang utama berupa alas kaki (HS 64), perabotan, lampu, dan alat penerangan (HS 94), serta kayu dan barang dari kayu (HS 44).
Di sisi lain, tiga negara penyumbang defisit terbesar mencakup Tiongkok, yang mengalami defisit sebesar US$ 271,56 juta.
Endang menyebutkan, ini terjadi karena Jawa Tengah lebih banyak mengimpor dibandingkan mengekspor ke Tiongkok, dengan penyumbang defisit terbesar dari negara tersebut berupa mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), dan kendaraan serta bagiannya (HS 87).
Baca juga: BPS Kendal Paparkan Indikator Strategis Membangun Kesadaran Literasi Statistik
Baca juga: Pj Bupati Imbau Kepala OPD Datang ke BPS Jemput Data untuk Prioritas Pembangunan Kabupaten Tegal
Defisit berikutnya berasal dari Nigeria, yang tercatat dengan nilai US$ 161,90 juta, dimana penyumbang defisit ini adalah bahan bakar mineral (HS 27).
Saudi Arabia juga tercatat mengalami defisit, dengan neraca perdagangan minus sebesar US$ 131,81 juta, dengan penyumbang defisit berupa bahan bakar mineral (HS 27), plastik dan barang dari plastik (HS 39), serta jangat dan kulit mentah/samak (HS 41).
Di sisi positif, neraca perdagangan barang non migas pada September 2024 di Jawa Tengah mencatat surplus sebesar US$ 226,48 juta.
| Manuver Truk Boks Menyalip Berujung Kecelakaan di Purbalingga, Tabrak Motor Lawan Arah |
|
|---|
| KAI Tutup Sementara Jalur Hulu Prupuk-Linggapura, Ada Potensi Bahaya di Struktur Jembatan |
|
|---|
| Rekam Brigadir SP di Kamar Mandi SPN Polda Jateng, Briptu BTS Disidang Etik Pekan Depan |
|
|---|
| Sekda Yulian Akbar Kembali Diperiksa KPK, Menyoal Outsourcing Pemkab Pekalongan |
|
|---|
| Partisipasi Pengaduan Naik, Ombudsman Jateng Soroti Layanan Dasar dan Kinerja Pemda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Endang-Kepala-BPS-Jateng.jpg)