Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jawa Tengah

Neraca Perdagangan Barang di Jawa Tengah Bulan September 2024 Alami Defisit

Neraca perdagangan barang pada September 2024 di Jawa Tengah mengalami defisit sebesar US$ 327,27 juta.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: deni setiawan
BPS JATENG
Kepala BPS Jateng, Endang Tri Wahyuningsih. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat neraca perdagangan barang pada September 2024 mengalami defisit sebesar US$ 327,27 juta.

Kepala BPS Jateng, Endang Tri Wahyuningsih menyebutkan, bulan sebelumnya, neraca perdagangan sempat mengalami surplus.

"Bulan sebelumnya sempat mengalami surplus, tetapi untuk September ini, Jawa Tengah mengalami defisit," kata Endang pada pemaparan yang digelar secara daring, Selasa (15/10/2024).

Baca juga: Diskominfo bersama BPS dan Forwaken Jalin Kebersamaan dengan Fun Futsal

Baca juga: DEMA FEBI UIN Saizu Kunjungi BPS Banyumas: Eksplorasi Peluang Karier dan Pemahaman Data Statistik

Pada laporan tersebut, Endang menjelaskan terdapat tiga negara penyumbang surplus terbesar. 

Pertama adalah Amerika Serikat, dengan penyumbang surplus utama berupa pakaian dan aksesori rajutan (HS 61), pakaian dan aksesori bukan rajutan (HS 62), serta perabotan, lampu, dan alat penerangan (HS 94).

"Neraca perdagangan ke Amerika Serikat tercatat sebesar US$ 302,80 juta atau surplus."

"Jadi, ekspor kita ke Amerika Serikat lebih besar daripada impornya," sebutnya.

Selanjutnya, Jepang juga menunjukkan surplus sebesar US$ 63,30 juta.

Penyumbang terbesar dari Jepang adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), diikuti oleh pakaian dan aksesori bukan rajutan (HS 62) dan pakaian dan aksesori rajutan (HS 61).

Sementara itu, Belanda mencatat surplus sebesar US$ 22,66 juta, dengan penyumbang utama berupa alas kaki (HS 64), perabotan, lampu, dan alat penerangan (HS 94), serta kayu dan barang dari kayu (HS 44).

Di sisi lain, tiga negara penyumbang defisit terbesar mencakup Tiongkok, yang mengalami defisit sebesar US$ 271,56 juta.

Endang menyebutkan, ini terjadi karena Jawa Tengah lebih banyak mengimpor dibandingkan mengekspor ke Tiongkok, dengan penyumbang defisit terbesar dari negara tersebut berupa mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), dan kendaraan serta bagiannya (HS 87).

Baca juga: BPS Kendal Paparkan Indikator Strategis Membangun Kesadaran Literasi Statistik

Baca juga: Pj Bupati Imbau Kepala OPD Datang ke BPS Jemput Data untuk Prioritas Pembangunan Kabupaten Tegal 

Defisit berikutnya berasal dari Nigeria, yang tercatat dengan nilai US$ 161,90 juta, dimana penyumbang defisit ini adalah bahan bakar mineral (HS 27).

Saudi Arabia juga tercatat mengalami defisit, dengan neraca perdagangan minus sebesar US$ 131,81 juta, dengan penyumbang defisit berupa bahan bakar mineral (HS 27), plastik dan barang dari plastik (HS 39), serta jangat dan kulit mentah/samak (HS 41).

Di sisi positif, neraca perdagangan barang non migas pada September 2024 di Jawa Tengah mencatat surplus sebesar US$ 226,48 juta.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved