Semarang
Lesuhnya Pasar Udan Riris dan Tlogosari, Banyak Kios Tutup Yang Ditinggalkan Pedagang
Pasar tradisional merupakan simbol perekenomian masyarakat menengah kebawah, semakin ramai suasana pasar di suatu daerah .
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pasar tradisional merupakan simbol perekenomian masyarakat menengah kebawah, semakin ramai suasana pasar di suatu daerah maka bisa dipastikan roda perekonomian berjalan.
Di Kota Semarang setidaknya delapan pasar tradisional terpantau sepi dari aktivitas jual beli, berdasarkan data dari Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang, tercatat delapan pasar yang sepi.
Yakni Pasar Banjardowo, Pasar Tlogosari, Pasar Udan Riris (Tlogosari), Pasar Banyumanik, Pasar Srondol, Pasar Gedawang, Pasar Meteseh, dan Pasar Manyaran.
Dari pantauan lokasi di pasar Udan Riris Tlogosari, tak sedikit kios-kios yang sudah terpasang kertas pengumuman dari Dinas Perdagangan Kota Semarang, yang berisikan kios tersebut sudah tidak beroperasi atau tutup.
Sejauh mata memandang, hanya tersisa segelintir pedagang pada saf bagian depan pasar Udan Riris, dengan barang dagangan alakadarnya. Saat memasuki lorong pasar, terlihat beberapa perabotan yang tak bertuan, dibiarkan rusak.
Juga ada beberapa bekas dagangan yang tak terurus, bahkan para tikus-tikus lebih sering berlarian dibagian belakang pasar, lantaran tak ada aktifitas masyarakat di sana.
Seorang pedagang sembako, Widiarti mengatakan kondisi sepinya pasar paling terasa usai pandemi Covid-19, setelah itu hingga saat ini diakuinya bahwa kondisi pasar tak seprima dulu.
Bahkan dia dan beberapa pedagang lainnya sepakat memberikan julukan pasar Udan Riris menjadi Pasar Telaten atau Pasar Sabar.
"Ya harus benar-benar sabar dan telaten kalau jualan di sini. Kondisi pasar sepi, fasilitas kaya becak dan ojek-ojek tukang angkut saja tidak ada," kata Widiarti sembari memandangi los-los pasar yang kosong, Senin (6/1/2025).
Kala itu Widiarti mengaku bahwa kondisi pasar sempat ramai pada tahun-tahun 2008, bahkan seluruh los pasar terisi oleh pedagang.
Terkadang tak sedikit dari pedagang yang masih membuka kiosnya hingga jam 9 malam, namun kini pada pedagang lebih memilih tutup sebelum adzan Maghrib berkumandang.
Tentu saja, sepinya pasar juga berpengaruh kepada pendapatan para pedagang. Mereka sempat mengernyitkan dahi ketika ditanya berapa penghasilan yang bisa mereka bawa usai berjualan.
Dia menambahkan, bahwa yang membeli belanjaannya adalah orang yang sama dan rata-rata sudah mereka kenali. Hanya para pelanggan setia saja yang datang tanpa ada perputaran pelanggan baru.
"Ya pokoknya separuh, saya ga ngitung tapi sangat terasa. Dulu bisa bawa untuk banyak, sekarang cuman cukup untuk modal saja, untuk bertahan. Kadang kalau kulaan juga nombok, apalagi waktu harga naik," curhatnya.
Kondisi sepinya pasar juga dibenarkan oleh Moch Syamsuri Ketua Pasar Udan Riris, yang kebetulan sebagai Ketua Pasar di Tlogosari.
| Gara-gara Tikus, Petani di Tegalwaton Semarang Empat Kali Gagal Panen |
|
|---|
| Kisah Warga Semarang Menang Undian Berangkat Ke Hainan Cina |
|
|---|
| Ini Risiko Operasional Proyek Sampah Jadi Listrik di Kota Semarang |
|
|---|
| "Kami Segera Tindaklanjuti" Heboh Tikus Keluar dari Ompreng MBG SMKN 8 |
|
|---|
| Volume Sampah di Kota Semarang Saat Lebaran Capai 1.000 Ton per Hari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Kondisi-Pasar-Udan-Riris-Tlogosari-sepi-dari-penjual-1234.jpg)