Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UMKM

Kisah Putri Merdekawati Ikut Lestarikan Bumi Lewat Usaha Batik Warna Alam

Bagi Putri Merdekawati, menjaga alam menjadi tanggungjawab semua orang, tak terkecuali dirinya sebagai pelaku usaha. 

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG / EKA YULIANTI FAJLIN
CEK HASIL PRODUKSI - CEO Batik Warna Alam si Putri, Putri Merdekawati mengecek hasil produksi di rumah produksinya, di Watusari, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (9/3/2025).  

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bagi Putri Merdekawati, menjaga alam menjadi tanggungjawab semua orang, tak terkecuali dirinya sebagai pelaku usaha. 

Ia bukanlah aktivis lingkungan, namun rasa cinta terhadap lingkungan selalu tertanam dalam jiwanya.

Bentuk cinta lingkungan ia aplikasikan dalam menjalankan usahanya  Batik Warna Alam Si Putri demi menjaga bumi tetap lestari.

"Bumi itu buat anak cucu kita, bukan dikasih. Hal itu yang menguatkan aku bagaimana aku tetap usaha tapi tidak merusak lingkungan," ungkap Owner Batik Warna Alam Si Putri, saat ditemui di rumah produksinya, Kampung Watusari, Kelurahan Pakintelan, Kota Semarang, Minggu (9/3/2025). 

Tren global yang kini mulai peduli tentang ecofashion semakin membulatkan tekad Putri konsisten menjalankan usaha tanpa merusak lingkungan.

Sejak usahanya dibuka pada 2017 hingga detik ini ia tetap menggunakan bahan-bahan alam dalam pewarnaan batiknya. 

Usaha Batik Warna Alam Si Putri bermula dari dirinya menyukai batik-batik bermotif lembut.

Ia juga memiliki darah keturunan orang Yogyakarta. Dimana, historis orang Yogyakarta identik dengan batik karena daerah istimewa tersebut merupakan salah satu pusat perkembangan industri batik di Indonesia. 

Perempuan berusia 45 tahun itu belajar membatik warna alam dari sahabatnya.

Sebelum memulai usaha, ia sempat melakukan tes market. Tes market ini bertujuan untuk mengetahui pangsa pasar.

Ia membawa 20 produk dan berhasil terjual sebanyak 17 produk. Melihat hasil tes market itu, ia meyakini ada pangsa pasar batik warna alam yang cukup baik. 

Gunakan berbagai tumbuhan hingga limbah organik 

Teknik membatik yang ia terapkan murni handmade atau buatan tangan meliputi teknik canting, cap, kombinasi cap dan canting, serta ecoprint. 

Sejumlah barang yang orang lain anggap sampah, justru di tangan terampil Putri diolah menjadi pewarna alami berkualitas tinggi. Misalnya, limbah organik tanaman peneduh di pinggir jalan yang biasanya dibuang, ia gunakan untuk pewarna alam.

"Orang buang, kami pakai. Orang-orang yang buang sampah (organik-red), kami WA. Kami tinggal kasih karung," ucap Putri. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved