Sabtu, 18 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ramadan 2025

Berkah Ramadan bagi PKL Aloon-Aloon MAS Semarang, QRIS Bikin Makin Praktis

Bulan suci Ramadan 2025 membawa berkah bagi pedagang kaki lima (PKL) di Aloon-Aloon Masjid Agung Semarang (MAS).

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG/Eka Yulianti Fajlin
PASAR RAMADAN - Seorang PKL melayani pembeli di Pasar Ramadan Aloon-Aloon MAS Semarang, Selasa (11/3/2025) sore. Momen Ramadan mendatangkan cuan bagi para pelaku UMKM. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bulan suci Ramadan 2025 membawa berkah bagi pedagang kaki lima (PKL) di Aloon-Aloon Masjid Agung Semarang (MAS).

Lokasi yang strategis berada di pusat Kawasan Johar dan bersebelahan dengan MAS atau Masjid Kauman itu membuat Aloon-Aloon MAS menjadi satu jujukan ngabuburit warga Semarang setiap momen Ramadan. Momen ngabuburit ini menjadi berkah bagi para PKL yang membuka lapak di Pasar Ramadan Aloon-Aloon MAS.

Biasanya, PKL hanya berjualan saat akhir pekan saja. Selama Ramadan, PKL buka setiap sore di sepanjang tepi Jalan Alun-Alun Barat dan sisi Aloon-Aloon MAS.

Seorang pedagang takoyaki, Intan Agustina Ningsih mengatakan, mulai membuka lapak pukul 15.30. Dibantu anaknya, ia melayani para pelanggan dengan penuh senyum.

"Silakan kakak takoyakinya," ucapnya, saat menawarkan dagangan kepada pelanggan, Selasa (11/3/2025) sore. 

Sudah tiga tahun ini, dirinya membuka lapak di Aloon-Aloon MAS. Menurut dia, tempatnya sangat mendukung untuk berjualan. Pada momen Ramadan, pengunjung mulai ramai sekira pukul 17.00. Mereka ngabuburit menunggu suara adzan berkumandang dari Masjid Kauman.

Hal menarik yang ditunggu masyarakat adalah saat tiba waktu berbuka puasa. Ada rebana dari Masjid Kauman masuk dan berkeliling alun-alun. Dimeriahkan pula suara mercon sebagai penanda waktu berbuka.

"Itu menjadi daya tarik masyarakat. Anak-anak senang, ramai. Jualan juga jadi senang," ungkap Intan.

Diakui Intan, keramaian Ramadan tahun ini di Aloon-Aloon MAS sedikit menurun dibanding Ramadan tahun lalu. Ia tidak begitu paham mengapa hal itu terjadi. Dia menduga kondisi ekonomi sedang lemah. Namun demikian, momen Ramadan ini masih bisa menghidupi keluarganya. Terutama saat akhir pekan, pengunjung masih tetap ramai. Dalam sehari, ia bisa menjual 50 porsi takoyaki. Satu porsi ia bandrol seharga Rp 15 ribu.

QRIS Permudah Pelanggan, Bikin Makin Praktis

Setiap berjualan, ia tak pernah lupa meletakan barcode QRIS di lapaknya. Penggunaan QRIS sangat mempermudah pelanggan yang seringkali tidak membawa uang tunai. Di sisi lain, juga memudahkan dirinya, tidak perlu menyiapkan uang kembalian.

"Sangat terbantu dengan QRIS. Orang yang tidak bawa cash, bisa tinggak scan saja. Saya sudah pakai QRIS sejak berjualan disini," terang Intan.

Ia pernah mencoba QRIS beberapa bank.  Namun, satu tahun terakhir ini, ia menggunakan BRI. Menurut dia, potongan bulanan QRIS dari BRI lebih kecil dibanding bank-bank yang pernah ia pakai sebelumnya

"BRI potongannya lebih kecil, tapi lupa berapa angkanya," ujarnya.

Meski penggunaan QRIS terkena potongan biaya, bagi Intan, tidak menjadikan persoalan. Dia lebih mengutamakan kenyamanan pelanggan apapun cara pembayarannya. Persentase perbanding pembayaran QRIS dan tunai masih sama-sama seimbang. Sejauh ini, pembayaran QRIS di lapaknya didominasi kaum muda.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved