Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Mahasiswa Kecam Polrestabes Klaim Kumpulkan BEM Sekota Semarang : Pecah Belah Gerakan

Polrestabes Semarang mengklaim berhasil mengumpulkan  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sekota Semarang saat acara

Penulis: iwan Arifianto | Editor: muh radlis
IST
DIKECAM MAHASISWA - Polrestabes Semarang mengklaim telah berhasil mengumpulkan perwakilan BEM dari tiga kampus di Kota Semarang melalui acara buka bersama Puri Suit Ballroom, Hotel Ciputra, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jumat (14/3/2025). Namun, klaim sepihak itu ditentang oleh para mahasiswa yang menyebut polisi telah mencatut nama BEM mereka. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Polrestabes Semarang mengklaim berhasil mengumpulkan  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sekota Semarang saat acara buka bersama di Puri Suit Ballroom, Hotel Ciputra, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jumat (14/3/2025).

Dalam acara itu, kepolisian mengklaim hadir perwakilan BEM di antaranya dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Diponegoro (Undip)  dan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag).

Namun, para mahasiswa menentang klaim tersebut. Mereka bahkan merasa polisi telah mencatut nama BEM-nya.

"Polrestabes Semarang secara sepihak  memposting ke media bahwa BEM Undip turut menghadiri kegiatan tersebut. Padahal kami tidak hadir sama sekali," jelas Ketua BEM Undip 2025, Aufa Atha Ariq saat dihubungi Tribun, Sabtu (15/3/2025) malam.

Berhubung merasa dicatut,  BEM Undip secara tegas mengecam keras tindakan Polrestabes Semarang yang melakukan klaim dan pengkondisian untuk membungkam aktivis mahasiswa melalui kegiatan buka bersama.

"Tindakan ini merupakan bentuk intervensi yang berupaya memecah belah gerakan mahasiswa dan mencoba mencederai kebebasan berpendapat," ujar Aufa.

Pihaknya menuntut Polrestabes Semarang untuk segera menghentikan segala bentuk  klaim sepihak.

Selain itu, kepolisian tak perlu represifitas terhadap mahasiswa dan menjamin kebebasan akademik serta hak berpendapat.

"Jika pembungkaman terus berlanjut, maka perlawanan akan semakin besar," tuturnya.

Sementara, Koordinator Aksi kamisan semarang, Natael Bremana menyebut, para mahasiswa yang hadir di tengah-tengah polisi bertentangan dengan gerakan mahasiswa yang selama ini mengecam polisi.

Kecaman mahasiswa yang selama ini ditunjukan kepada polisi tak lepas dari rentetan kasus yang terjadi di Kota Semarang yang dimulai dengan tindak represif aparat kepolisian terhadap mahasiswa.

Ditambah kasus Aipda Robig Zaenudin eks anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polrestabes Semarang yang membunuh Gamma Rizkynata Oktafandy (GRO).

Berikutnya kasus Darso warga Mijen Semarang yang dihajar oleh anggota Satlantas Polresta Yogyakarta hingga meninggal dunia.

Tak sampai di situ,  dua polisi Aiptu Kusno (46) dan Aipda Roy Legowo (38) memeras para remaja di Kota Semarang.

Rentetan kasus itu belum juga surut, ada kasus enam anggota Direktorat Siber Polda Jateng justru melakukan intimidasiterhadap band Sukatani karena tersinggung dengan lagu Bayar Bayar Bayar yang mengkritik polisi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved