Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ramadan 2025

Berkah Ramadan, Petani Jamur Tiram di Batang Kebanjiran Permintaan, Sehari Bisa Capai 40 Kilogram

Ramadan menjadi momentum penuh berkah, terutama bagi petani jamur tiram di Batang, permintaan melonjak dua kali lipat dibandingkan hari biasa.

Tayang:
Penulis: dina indriani | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/DINA INDRIANI
JAMUR TIRAM - Muchammad Furqon warga Wonotunggal Batang menunjukkan baglog jamur tiram miliknya. Ramadan menjadi momentum penuh berkah karena permintaan masyarakat melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Ramadan menjadi momentum penuh berkah, terutama bagi petani jamur tiram di Batang

Permintaan masyarakat melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. 

Selain untuk lauk, jamur tiram kian diminati sebagai bahan dasar aneka kudapan spesial Lebaran.

Baca juga: Mudik Gratis, Pemkab Batang Berangkatkan Tiga Armada Bus ke Jakarta

Baca juga: Bhimasena Lentera Ramadan, Buka Puasa Bersama dan Pembagian Zakat kepada Ratusan Warga Batang

Muchammad Furqon Firman Syah (33), seorang petani jamur asal Wonotunggal, Batang mengungkapkan kenaikan permintaan ini memberi tantangan tersendiri.

Pasalnya, dari kebutuhan harian biasanya sebanyak 20 kilogram, kini harus dipenuhi hingga 40 kilogram per hari. 

"Permintaan selama Ramadan meningkat hampir dua kali lipat, tapi kami tetap berusaha menjaga kualitas." 

"Walau begitu, beberapa permintaan terpaksa tidak bisa kami penuhi," jelas Furqon.

Meski permintaan meroket, harga jamur tiram tetap stabil di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram.

Produk segar ini dipasarkan terutama ke pasar lokal di Batang dan Pekalongan.

Furqon optimistis dengan prospek budidaya jamur tiram di Batang.

Baca juga: Gerak Cepat Wakil Bupati Batang Suyono Bantu Warga Terdampak Puting Beliung: 60 Rumah Rusak

Baca juga: Mudik Lebaran 2025, Pemkab Batang Siapkan Langkah Strategis untuk Kelancaran Arus Mudik-Balik

Dia menyebut, peluang pasar masih terbuka lebar, karena tingginya permintaan yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Menurutnya, budidaya jamur tergolong mudah dikelola, hanya memerlukan penyiraman rutin dan perawatan insektisida dua kali sebulan.

"Awalnya kami hanya punya 2.000 baglog dengan modal Rp500 ribu."

"Sekarang, Alhamdulillah sudah bertambah menjadi 20.000 baglog," tuturnya.

Proses panen juga semakin terorganisir.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved