Berita Bisnis
Harga Tempe dan Tahu Berpotensi Naik Dampak Kebijakan Tarif Trump
Harga kedelai, sebagai bahan baku utama produksi tempe-tahu merangkak naik dalam hitungan hari.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Harga kedelai, sebagai bahan baku utama produksi tempe-tahu merangkak naik dalam hitungan hari.
Asosiasi pengusaha tempe dan tahu mengungkap potensi untuk menaikkan harga produk tersebut bila kenaikan harga bahan baku ini melampaui batas wajar.
Baca juga: Cobalah Lilin Aromaterapi Berbahan Kedelai Ramah Lingkungan
Ketua Pusat Koperasi Tempe dan Tahu (Puskopti) Jateng Sutrisno Supriantoro mengatakan, minggu ini, harga kedelai impor yang biasa dimanfaatkan perajin tempe tahu meningkat menjadi hampir Rp 10.000/Kg.
Jika kenaikan harga terus terjadi, ia menyebut, perajin mengambil langkah dengan menaikkan harga produk.
"Harga kedelai sekarang merangkak naik. Ini sudah Rp 9.500/Kg, dari yang tadinya Rp 8.000/Kg. Naiknya seminggu ini," kata Sutrisno dihubungi Tribun Jateng, Jumat (11/4/2025).
Dia menyebutkan, ebutuhan kedelai di Jateng di kisaran 20.000 ton per bulan. Adapun melalui Kopti, di kisaran 7.500 - 8.000 ton per bulan.
Dia melanjutkan, kedelai impor dari Amerika Serikat mengalami kenaikan harga seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Kedelai ini, 90 persen impor dari AS, sehingga terdampak dari situ, dari nilai tukar rupiah terhadap dolar (AS).
Kemudian kebijakan (tarif resiprokal) pemerintah Amerika Serikat 32 persen, berpotensi bikin harga kedelai naik," ungkapnya.
Ia melanjutkan, perajin tempe tahu saat ini belum merasakan dampak langsung dari kenaikan harga bahan baku.
Sehingga, kata dia, belum ada perajin yang melakukan siasat atas kenaikan harga.
Baca juga: Kisah Karel, Pemuda Disabilitas Yang Rela Jualan Susu Kedelai Demi Biayai 3 Adik
"Nanti ketika harga kedelai naik lagi, (perajin) rata-rata akan menaikkan harga. Jarang untuk mengurangi (memperkecil ukuran produk), sehingga pelanggan sudah biasa dengan harga naik," jelasnya.
Sementara itu, Sutrisno berharap pemerintah dapat mengantisipasi situasi ini dengan memberikan subsidi.
"Harapan kami pemerintah antisipasi supaya tidak naik dengan cara memberikan subsidi," imbuhnya. (idy)
| Rekor Baru! Dana Kelolaan Reksa Dana Tembus Rp679 Triliun, Tertinggi dalam 5 Tahun |
|
|---|
| Jogja Print Expo 2026 Dibuka, UMKM Jadi Tulang Punggung Industri Grafika di Tengah Era Digital |
|
|---|
| UMKM Lokal Bersinar di Jogja Food & Beverage Expo 2026, Dari Jajanan Pasar hingga Inovasi Global |
|
|---|
| 32 Tahun Krista Exhibitions, Jogja Food & Beverage Expo 2026 Jadi Panggung UMKM dan Industri Global |
|
|---|
| Jogja Pack & Process Expo dan Jogja Printing Expo 2026 Tampilkan Inovasi Kemasan dan Teknologi Cetak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Pedagang-kedelai-eceran-di-Jalan-Pedamaran-Semarang.jpg)