Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Semarang Kurangi Ukuran Produksi

Harga kedelai impor naik pasca Lebaran, perajin tahu Semarang kurangi ukuran produksi demi bertahan.

Penulis: budi susanto | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM/ BUDI SUSANTO
PROSES PEMBUATAN TAHU - Seorang pekerja sedang melakukan proses pembuatan tahu di Jalan Tandang Raya Nomor 2, Kota Semarang, Jumat (18/4/2025). Wilayah tersebut acapkali disebut sebagai sentra pembuatan tahu lantaran ada lokasi pembuatan tahu ECO.  

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Kenaikan harga kedelai impor dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika mulai menghantam industri tahu di Kota Semarang.

Para perajin tahu kelimpungan menjaga kelangsungan produksi di tengah lonjakan biaya bahan baku yang terus membumbung pasca Lebaran 2025.

Salah satu yang terdampak adalah perajin Tahu ECO di Jalan Tandang Raya Nomor 2, Kota Semarang.

Demi tetap bisa berproduksi, mereka terpaksa mengurangi ukuran tahu yang diproduksi setiap harinya.

“Kalau tidak dikurangi ukurannya, ya kami rugi. Mau tak mau harus disiasati,” ujar Joko Wiyatno, perajin tahu Tahu ECO, Jumat (18/4/2025).

Menurutnya, harga kedelai impor yang semula berada di kisaran Rp 8.500 per kilogram kini menembus Rp 9.700 per kilogram.

Padahal, setiap harinya Tahu ECO membutuhkan setidaknya satu ton kedelai untuk menjaga stabilitas produksi.

Meski demikian, beralih ke kedelai lokal bukanlah solusi yang mudah.

Joko menuturkan, selain kualitas kedelai lokal yang belum bisa menyamai kedelai impor untuk pembuatan tahu, pasokannya pun sangat terbatas.

“Stoknya terbatas sekali. Untuk memenuhi kebutuhan harian saja sulit, apalagi untuk menyimpan cadangan,” katanya.

Lonjakan harga ini, menurut Joko, kemungkinan disebabkan oleh tekanan eksternal seperti perang dagang internasional serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kondisi ini membuat harga kedelai sebagai bahan baku utama tahu menjadi sangat fluktuatif dan sulit diprediksi.

Joko pun mengaku cemas jika situasi ini terus berlanjut.

Tanpa adanya intervensi dari pemerintah, banyak industri rumahan seperti miliknya yang terancam gulung tikar.

“Kami harap pemerintah bisa mengontrol harga kedelai dan bantu tingkatkan kualitas kedelai lokal agar kami tidak terus bergantung pada impor,” imbuhnya.
 
 
 
 

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved