Jumat, 29 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Nasional

Paus Fransiskus, Paus Belas Kasih

Paus Fransiskus tidak kenal lelah menyerukan perdamaian dan menunjukkan kedekatannya dengan mereka yang menderita.

Tayang:
katolisitas
PASUS FRANSISKUS: Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus telah berpulang pada hari Senin (21/4) pukul 07.35 waktu Roma, ItaliA, di kediamannya Apartemen Santa Marta. Paus Fransiskus, yang sebelum menjadi Uskup Roma bernama Jorge Mario Bergoglio, lahir di Flores, Buenos Aires, Argentina, 17 Desember 1936, meninggal pada usia 88 tahun. (ISTIMEWA) 

universal, khususnya demi mereka yang paling miskin dan

paling terpinggirkan. Dengan rasa syukur yang tak terhingga

atas teladannya sebagai murid sejati Tuhan Yesus, kami

serahkan jiwa Paus Fransiskus kepada kasih yang tak terbatas

dan penuh belas kasihan dari Allah Tritunggal Mahakudus."

Sebelum wafat, Paus Fransiskus sempat dirawat di Rumah Sakit

Poliklinik Agostino Gemelli, Roma sejak pada hari Jumat, 14

Februari 2025, dan keluar 38 hari kemudian. Ketika itu, dokter

mengatakan Paus Fransiskus menderita pneumonia bilateral.

Tanggal 18 Februari dokter mengatakan, kondisi Paus

berangsur-angsur memburuk.

Menurut catatan kesehatan pihak Vatikan, pada tahun 1957, di

awal usia 20-an, Jorge Mario Bergoglio menjalani operasi untuk

mengangkat sebagian paru-parunya yang terkena infeksi

pernapasan parah. Seiring bertambahnya usia, Paus Fransiskus

sering menderita penyakit pernapasan. Bahkan membatalkan

rencana kunjungannya ke Uni Emirat Arab pada bulan

November 2023 karena influenza dan radang paru-paru.

“Papal Interregnum”

Setelah seorang paus wafat, ada masa yang disebut sebagai

“Papal Interregnum”. Yakni, periode antara wafatnya seorang

paus dan pemilihan paus lainnya. Jadi masa “Papal

Interregnum” kali ini dimulai ketika Fransiskus meninggal pada

hari Senin, hingga nanti seorang paus baru terpilih.

Di masa itulah, para kardinal kini harus memutuskan kapan

tepatnya pemakaman dapat dilaksanakan, dan setelah itu,

kapan konklaf dapat dimulai. Namun, sebagian besar jadwal

telah ditentukan sebelumnya.

Seperti sudah disebut di atas, masa berkabung berlangsung

selama sembilan hari yang dikenal sebagai Novendiales. Dan

Paus harus dimakamkan antara hari keempat dan keenam

setelah kematiannya. Sementara itu, Paus akan ditempatkan di

dalam peti jenazah, setelah itu ia akan disemayamkan selama

beberapa hari hingga pemakaman.

Jenazah Paus juga harus disemayamkan di Basilika Santo Petrus

selama masa berkabung. Misa Kudus akan diadakan setiap hari.

Di akhir masa berkabung, akan diadakan misa pemakaman

besar di Basilika Santo Petrus. Secara historis, ini adalah acara

besar, dengan para pejabat tinggi dari seluruh dunia yang

diharapkan hadir.

Pada bulan 12 Desember 2023, Paus Fransiskus mengatakan

kepada televisi Meksiko Noticieros Televisa bahwa ia ingin

“dimakamkan di Santa Maria Maggiore,” sebuah gereja Katolik

dan basilika kepausan yang penting, di ibu kota Italia, yang

disebut sebagai Basilika Bunda Maria, Salus Populi Romani

(Pelindung Orang Roma). Di basilika inilah Paus setiap kali akan

pergi ke luar negeri dan kembali dari perjalanan ke luar negeri,

berdoa di hadapan gambar Bunda Maria.

Setelah keluar dari rumah sakit, Paus juga mengunjungi Basilika

St. Maria Maggiore dengan membawa seikat bunga. Bahkan,

pekan lalu, Paus Fransiskus ke Basilika St. Maria Maggiore.

Bila nanti dimakamkan di Basilika St. Maria Maggiore, Paus

Fransiskus telah memutus sejarah, karena selama ini sebagian

besar paus dimakamkan di Basilika St. Petrus, Vatikan. Tetapi,

di Basilika St. Maria Maggiore sudah ada beberapa paus yang

dimakamkan di tempat itu. Misalnya, Paus Clement IX

(bertakhta, 1667- 1669).

Menurut catatan, pada tahun 2024, Paus Fransiskus secara

resmi mengubah tata cara pemakaman, menyederhanakan

ritual untuk menonjolkan perannya sebagai uskup dan

mengizinkan pemakaman di luar Vatikan sesuai dengan

keinginannya. Surat kabar Vatikan, L’Osservatore Romano

menerbitkan rincian buku liturgi yang diperbarui, yang disetujui

Paus Fransiskus pada tanggal 29 April 2024. Edisi baru tersebut

menggantikan versi sebelumnya, yang terakhir diterbitkan pada

tahun 2000.

Tata cara pemakaman yang direvisi tersebut menghapus

persyaratan bagi jenazah Paus untuk disemayamkan di atas

usungan jenazah yang ditinggikan di Basilika Santo Petrus untuk

penghormatan terakhir dari publik. Sebagai gantinya, jenazah

akan diletakkan dalam peti mati sederhana. Pedoman yang

diperbarui tersebut juga menghapus penggunaan peti mati

tradisional tiga lapis—cemara, timah, dan kayu ek.

Menurut Monsignor Diego Ravelli seperti dikutip L’Osservatore

Romano bahwa penyederhanaan ini bertujuan “untuk lebih

menekankan bahwa pemakaman Paus Roma adalah

pemakaman seorang gembala dan murid Kristus, bukan

pemakaman seorang manusia berkuasa di dunia ini.”

Lebih 59 Negara

Sejak dipilih menjadi paus, pada tanggal 13 Maret 2013, Paus

Fransiskus belum pernah mengunjungi negaranya, Argantina.

Malahan, Brasil, tetangga Argentina adalah negara pertama

yang dikunjungi Paus.

September tahun lalu, Paus Fransiskus melakukan perjalanan

paling panjang sejak memegang Takhta Kepausan. Ia

mengunjungi empat negara Asia-Pasifik: Indonesia, PNG, Timor

Leste, dan Singapura, dengan menempuh jarak 32.814

kilometer. Ini adalah merupakan perjalanan ke luar negeri yang

ke 45 kalinya, ke lebih dari 59 negara.

Selama masa kepausannya, termasuk yang pertama oleh

seorang paus ke Irak, Uni Emirat Arab, Myanmar, Makedonia

Utara, Bahrain dan Mongolia. Ketika berkunjung ke Irak, Paus

Fransiskus bertemu dengan Grand Ayatollah Ali Sistani, otoritas

tertinggi Islam Shiah di Irak.

Paus Fransiskus mencintai gerakan persaudaraan dan

kerukunan antarumat beragama, dan tidak ada simbol toleransi

beragama yang lebih baik di awal perjalanannya selain

“Terowongan Persahabatan” bawah tanah yang

menghubungkan masjid utama Istiqlal di Indonesia dengan

Katedral Maria Assumpta, Jakarta.

Di Jakarta, Paus Fransiskus bersama dengan Imam Besar Masjid

Istiqlal, Nasaruddin Umar (Sekarang Menteri Agama)

menandatangani “Deklarasi Istiqlal” yang berjudul

“Meneguhkan Kerukunan Umat Beragama Untuk

Kemanusiaan”.

Lima tahun sebelumnya, 2019, Paus Fransiskus bersama dengan

Imam Besar Al-Azhar, Kairo, Mesir, menandatangani dokumen

“Human Fraternity, for Peace World Peace and Living Together”

yang lebih dikenal dengan Dokumen Abu Dhabi.

Paus Perdamaian

Kita akan mengenang Paus Fransiskus sebagai seorang Paus

perdamaian. Paus Fransiskus tidak kenal lelah menyerukan

perdamaian dan menunjukkan kedekatannya dengan mereka

yang menderita akibat salah satu bencana buatan manusia yang

paling tidak adil: perang.

Perdamaian adalah hal yang selalu dipanjatkan saat berdoa.

Paus Fransiskus menetapkan hari-hari puasa dan doa

perdamaian untuk Suriah, Lebanon, Afghanistan, Sudan

Selatan, Republik Demokratik Kongo, dan Tanah Suci, yang

melibatkan umat beriman di seluruh dunia.

Dalam pesannya yang terakhir sebelum memberikan berkat

“Urbi et Orbi”, hari Minggu (20/4) masalah perdamaian

ditekankan lagi. Paus menyerukan dan mendesak

diupayakannya perdamaian di Timur Tengah (perang antara

Israel dan Palestina), di Ukraina, Republik Demokrasi Kongo,

Sudan Selatan, Kaukasus Selatan, Armenia, Azerbaijan, Sahael,

dan Tanduk Afrika, juga Myanmar.

Kata Paus Fransiskus dalam pesan “Urbi et Orbi-nya: “Saya

mengimbau kepada semua orang yang memegang tanggung

jawab politik di dunia kita untuk tidak menyerah pada logika

ketakutan yang hanya akan menyebabkan isolasi dari orang

lain, tetapi lebih baik menggunakan sumber daya yang tersedia

untuk membantu yang membutuhkan, memerangi kelaparan,

dan mendorong inisiatif yang mempromosikan pembangunan.

Inilah ‘senjata’ perdamaian: senjata yang membangun masa

depan, alih-alih menabur benih kematian!”

Dengan suaranya yang lembut dan tak kenal lelah, Paus

Fransiskus mengingatkan dunia akan persaudaraan manusia

dan keadilan sosial, bersaksi, sampai akhir, dengan teladanNya, tentang kedekatan dengan yang termiskin, yang

terlupakan, yang terpinggirkan. Paus dengan penuh tekad,

selalu mencari dialog dan perdamaian. Bapa Suci yang “datang

dari ujung dunia” memberi visi kepada siapa saja, di mana

seluruh umat manusia dipeluk dalam satu pelukan.

Oleh karena, Paus Fransiskus selalu mengatakan, semua

manusia diciptakan dengan harkat dan martabat yang sama.

Maka semua adalah saudara (Fratelli tulli). Satu saudara yang

tinggal dan hidup di dunia yang sama yang harus dijaga dan

dipelihara (Laodato Si).

Paus Pinggiran

Dijuluki "Paus pinggiran", bukan hanya karena Paus Fransiskus

tidak datang dari Eropa—yang dulu disebut sebagai pusat

kekatolikan—dan dari Argentina, melainkan Paus Fransiskus

selalu meluangkan waktu untuk mengenang mereka yang

menderita akibat konflik.

Jadi, istilah periferi, pinggiran, tidak semata berarti secara

geografis, tetapi juga pinggiran eksistensial: misteri dosa,

penderitaan, ketidakadilan, ketidaktahuan dan ketidakpedulian

terhadap agama, arus intelektual, dan segala kesengsaraan. Ke

sanalah Gereja dipanggil; untuk keluar dari dirinya sendiri dan

pergi ke pinggiran.

Sambil berdoa untuk perdamaian di daerah-daerah yang paling

banyak mendapat perhatian media, ia juga tidak pernah gagal

menyalurkan doanya ke beberapa daerah yang paling terpukul,

namun paling dilupakan oleh dunia.

Salah satu gerakannya yang paling simbolis—yang

menggambarkan belas kasihnya—dan momen yang sangat

mencolok dari kepausannya, adalah pada bulan April 2019,

ketika Paus Fransiskus berlutut untuk mencium kaki para

pemimpin Sudan Selatan yang tengah bergulat dengan perang

saudara.

Saat ia menyapa Presiden Salva Kiir dan saingannya Riek

Machar di Vatikan, Paus, dalam kerendahan hatinya, mencium

kaki mereka, mendesak para pemimpin untuk meletakkan

senjata mereka dan menempuh jalan perdamaian. (KBRI

TAKHTA SUCI, VATIKAN)

Baca juga: Paus Fransiskus Meninggal Hari Ini, Siapa Kandidat Kuat Penggantinya? 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved