Pertanian
Revolusi Pertanian dari Desa, Hendi Pelopori Bertani Melon dengan Smart Hidroponik
Budidaya tanaman dengan metode hidroponik dianggap solusi atas keterbatasan lahan.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, TEMANGGUNG - Budidaya tanaman dengan metode hidroponik dianggap solusi atas keterbatasan lahan. Biasanya metode ini popular di kawasan perkotaan yang terbatas lahan.
Namun siapa sangka, di desa terpencil lereng Gunung Sindoro, Desa Bansari, Kecamatan Bansari Temanggung, cara bertani modern ini juga mulai digandrungi petani.
Meski lahan di luar terbentang luas, sebagian petani justru memilih bertani di rumah kaca (green house) karena hasil yang lebih memuaskan.
Lulus dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Hendi Nurseto, warga Desa Bansari tak malu jadi petani di kampung halaman. Ia ingin mengaplikasikan ilmunya di kampus untuk membantu petani.
“Tahun 2017 saya mulai membangun hidroponik. Karena di desa hampir 95 persen warganya bertani secara konvensional,”katanya, Rabu (23/4/2025)
Hendi prihatin, petani sering merugi karena dipermainkan sistem pasar yang tak berpihak ke mereka.
Saat harga pasaran sedang bagus, hasil panen biasanya tak maksimal. Sebaliknya, ketika hasil panen melimpah, harga jual anjlok. Padahal biaya produksi dari olah lahan sampai panen yang dikeluarkan petani tidak lah sedikit.
Tren yang terus berulang itu membuat petani sulit sejahtera.
Inilah yang menjadi alasan dia ingin bertani dengan pola beda. Ia ingin menciptakan pasar sendiri tanpa harus bergantung dengan tengkulak.
Ia memilih bertani dengan metode hidroponik untuk menggaet pasar khusus.
“Harapannya komoditas punya nilai, tidak tergantung dengan mekanisme pasar,”katanya
Hendi membangun green house yang di dalamnya ia tanami berbagai komoditas, baik sayur maupun buah.
“Saya coba tanam sayur, harga baik. Tapi kelemahan sayur, pasarnya terbatas waktu dan area, karena daya simpan tak lama,”katanya
Budidaya Melon Premium
Di salah satu green house dengan brand Flos Hidroponik miliknya, Desa Bansari, tanaman melon kualitas premium tumbuh rimbun menghijaukan seisi ruangan.
Buah melon berbagai jenis yang siap petik bergelantungan. Ragam bentuk dan warna melon yang terang tampak menggoda.
Hujan deras yang turun tak sampai masuk ke dalam. Hawa dingin pengunungan tak mampu menembus ruang. Di dalam green house, suhu udara tetap sedang.
Hendi punya alasan tersendiri memilih membudidayakan melon di banding komoditas lain. Melon punya daya simpan lebih lama, sehingga tak khawatir untuk pengiriman jarak jauh, bahkan ke luar negeri.
“Kalau sayur itu daya simpan sebentar, terbatas waktu penyimpanan dan area pemasaran,”katanya
Melon yang dibudidayakan Hendi adalah jenis melon premium, di antaranya Japanese Melon dan Korean Melon dengan target pasar khusus.
Hendi tak bingung soal pemasaran. Ia sedari awal sudah melakukan kontrak kerja sama dengan perusahaan. Harga pun sudah ditetapkan di awal.
Dengan kontrak harga di awal, ia tak terpengaruh dengan fluktuasi harga melon di pasaran.
Setiap kali panen, melonnya langsung dikirim ke perusahaan untuk ditukar cuan. Berapapun hasil panennya langsung terserap pasar. Bahkan ia mengaku kewalahan karena kebutuhan yang besar.
“Kebutuhannya besar, tapi stok masih terbatas. Butuh banyak green house,”katanya
Tak hanya pasar nasional, Hendi bahkan sempat mengekspor melonnya sampai luar negeri atau Singapura.
Efektif dan Efisien
Selain memiliki green house yang dibangun dengan dana pribadi, Hendi juga mengelola beberapa green house bekerja sama dengan kelompok tani setempat. Ia dipercaya memimpin Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rahayu Makmur yang membawahi beberapa kelompok tani.
Hendi berhasil menginspirasi para petani untuk menginovasi usaha pertaniannya.
Hanya saja, untuk bertani hidroponik, kebanyakan petani masih terkendala modal. Ia memaklumi lantaran modal awal membangun infrastruktur hidroponik cukup mahal, mencapai ratusan juta rupiah.
Modal sebesar itu tentu sulit dijangkau petani, khususnya dari kalangan menengah ke bawah.
“Untuk membangun green house seluas 330 meter persegi, butuh biaya Rp 150 juta. Bisa untuk 1000 tanaman,”katanya
Tapi hendi meyakinkan, jika dihitung keseluruhan, bertani menggunakan green house sebenarnya lebih hemat di banding pola konvensional. Pada pertanian konvensional, modal terbesar bertani biasanya pada olah lahan hingga perawatan, baik pemupukan, pengobatan, hingga pembersihan gulma.
Bertani di alam terbuka justru dinilainya memiliki risiko lebih besar. Terutama ancaman serangan hama dan virus yang bisa menurunkan produktivitas lahan hingga gagal panen.
Cuaca ekstrem membuat pertumbuhan bakteri dan hama sangat cepat hingga menggerogoti tanaman.
Jikapun bisa diatasi, petani konvensional harus mengeluarkan modal besar untuk membeli obat dan pupuk yang lebih intens.
“Kalau di lahan terbuka kurang efisien, biaya perawatan lebih besar,”katanya
Beda dengan hidroponik yang tidak begitu terpengaruh cuaca ekstrem. Suhu yang terkontrol membuat hama dan bakteri lebih terkendali. Dengan minimnya hama dan penyakit, otomatis biaya perawatan, khususnya untuk membeli obat-obatan bisa ditekan.
Pemberian pupuk atau nutrisi juga lebih irit karena langsung terserap tanaman, tidak terbuang karena hujan atau menguap karena panas seperti di lahan terbuka.
Nutrisi diberikan sesuai kebutuhan tanaman, sehingga kualitas pertumbuhan dan hasil panen lebih optimal. Tak heran, meski di lahan dengan luasan terbatas, produktivitas panen hidroponik bisa lebih maksimal.
Infrastruktur hidroponik yang dibangun dengan biaya mahal di awal, menurut dia, sepadan dengan tingkat keawetannya yang sampai puluhan tahun. Bagi Hendi, membangun green house untuk hidroponik adalah investasi jangka panjang.
“Bangunan bisa bertahan sampai 25 tahun, selama itu kita bisa menghemat biaya perawatan dan hasil panen maksimal. Kalau dihitung-hitung, lebih hemat sebenarnya.
Keuntungan misal 1000 tanaman saja, harga sekilo melon Rp 30 ribu,”katanya
Akses KUR BRI dan Kolaborasi
Untuk mengembangkan usaha pertaniannya, Hendi butuh modal tambahan. Hendi mengakses modal ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) lewat program Kredit Usaha Rakyat (KUR).
KUR adalah program pemerintah untuk membantu akses pembiayaan bagi masyarakat, khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Hendi sendiri meminjam KUR karena butuh biaya produksi untuk usaha pertanian hidroponiknya.
Modal bertani hidroponik bukan hanya untuk membangun infrastruktur atau green house, namun juga untuk biaya perawatan maupun sarana penunjang lainnya.
“Pinjam KUR untuk biaya produksi,”katanya
Hendi tidak mau mengeruk keuntungan hanya untuk pribadi. Percuma ia sukses, jika tidak mau berbagi. Ia mencoba berkolaborasi dengan para petani. Hendi juga diamanati sebagai Ketua Gapoktan Rahayu Makmur.
Keberhasilan pertanian hidroponik di Desa Bansari menarik perhatian Kementerian Pertanian. Pemerintah pusat menggelontorkan bantuan pembangunan green house untuk pengembangan.
Pemerintah membangun 9 green house di wilayah Kecamatan Bansari, 4 di antaranya dibangun di Desa Bansari untuk dikelola kelompok tani.
Semakin banyak green house membuat usaha pertanian hidroponik di Desa Bansari kian berkembang. Produktivitas panen bisa lebih digenjot untuk memenuhi permintaan.
“Keberhasilan ini karena kita mau kolaborasi. Baik dengan petani, akademisi, pemerintah dan BUMN,”katanya
Keberadaan green house diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Hendi menginginkan, dengan usaha tersebut, kelompok tani tidak lagi berparadigma untuk selalu mencari bantuan. Tetapi bisa mandiri dengan unit usaha yang menghasilkan.
Para petani yang tergabung dalam Gapoktan Rahayu Makmur kini juga tidak mudah dipermainkan pasar. Sayur dan buah yang mereka tanam di green house sudah di-booking perusahaan dengan harga di awal.
“Misal mentimun, kita sepakat kontrak di harga Rp 3000, itu sudah untung,”katanya
Smart Hidroponik
Menariknya, hidroponik yang dikembangkan di Desa Bansari dilengkapi dengan teknologi tepat guna menggunakan konsep smart hidroponik. Teknologi itu berfungsi untuk mengontrol suhu dan kelembaban udara, hingga distribusi nutrisi ke setiap tanaman.
Canggihnya, kerja-kerja tersebut bisa dimonitor atau dikendalikan lewat smartphone yang terhubung ke internet.
Penggunaan teknologi itu, menurut Hendi sangat menguntungkan karena bisa menghemat pekerjaan.
“Misal suhu terlalu tinggi, nanti kipas menyala. Dengan alat ini pekerjaan yang biasanya dikerjakan banyak orang, bisa dikelola 1 orang,”katanya
Karena daya tariknya, Flos Hidroponik Bansari kini juga dibuka untuk wisata edukasi bagi masyarakat umum. Sekaligus jadi pusat studi atau penelitian bagi civitas akademika.
Suko dan dua temannya, siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bansari telaten merawat tanaman melon di dalam green house, Minggu (20/4/2025).
Para siswa jurusan pertanian itu sedang menjalani tugas sekolah Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Suko tak sulit mendapatkan tempat PPL untuk belajar dan mengaplikasikan ilmunya di sekolah.
Di wilayahnya sendiri, pertaniannya sudah maju dengan konsep hidroponik.
“PPL di sini menyenangkan, bisa belajar dan praktik langsung,”katanya
Di Flos Hidroponik, Suko dan teman-temannya bukan hanya belajar teori, tapi juga mempraktikkannya langsung cara bertani hidroponik, mulai penyiapan media tanam, penanaman, perawatan, hingga panen.
Pembelajaran langsung di lapangan seperti ini dirasanya lebih mengena di banding belajar teori di sekolah.
Pengetahuan yang didapat selama PPL di Flos Hidroponik juga menjadi bekal berharga bagi dia di masa mendatang. Wawasannya soal dunia pertanian juga semakin matang.
“Sebenarnya kalau suruh merawat hidroponik sendiri sudah bisa, cuma bangun green housenya yang mahal,”katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/RAWAT-TANAMAN-Seorang-siswa-Praktik-Pengalaman-Lapangan-PPL-SMKN.jpg)