Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Suara dari Jalan Pahlawan: Ketika Luka Lama Buruh Masih Menganga di Hari Buruh

Langit sore di Jalan Pahlawan, Semarang, Kamis (1/5/2025), dipenuhi nyanyian perjuangan dan kibaran bendera saat Hari Buruh. 

Tayang:
Penulis: budi susanto | Editor: raka f pujangga
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
ORASI - Perwakilan dari KASBI menyerukan nasib buruh dalam aksi May Day di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (1/5/2015). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Langit sore di Jalan Pahlawan, Semarang, Kamis (1/5/2025), dipenuhi nyanyian perjuangan dan kibaran bendera. 

Di balik pagar besi Kantor Gubernur Jawa Tengah, gelombang massa datang silih berganti. 

Mereka tak sekadar membawa spanduk dan tuntutan.

Baca juga: May Day 2025 di Blora, Bupati Arief Rohman Apresiasi Harmonisnya Hubungan Pekerja dengan Pengusaha

Mereka membawa sejarah, luka, dan keyakinan bahwa perubahan harus diperjuangkan, bukan ditunggu.

Tiga gelombang massa dari serikat buruh, mahasiswa, hingga aktivis lintas isu berkumpul dalam satu napas, memperingati May Day dengan semangat perlawanan.

Salah satu suara lantang datang dari Giyanto, koordinator aksi dari Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI). 

Dengan pengeras suara di tangan, ia tak hanya berbicara tentang tuntutan upah atau jaminan kerja. 

Ia bicara tentang Marsinah buruh perempuan yang dibunuh pada era Orde Baru karena memperjuangkan haknya.

“Marsinah adalah luka kami yang belum sembuh. Ia simbol dari apa yang terjadi ketika negara lebih melindungi kepentingan modal daripada rakyatnya sendiri,” ujarnya lantang. 

Di wajahnya, tersirat duka sekaligus semangat yang tak padam.

Giyanto mengenang bagaimana KASBI lahir dari rahim perlawanan, dari penolakan terhadap dominasi militer di kehidupan sipil pada masa Orde Baru. 

Kini, menurutnya, bayang-bayang masa lalu itu belum benar-benar hilang. 

"UU TNI hari ini masih memuat pasal yang membolehkan intervensi militer saat ada mogok kerja. Ini kemunduran. Harus dicabut," tegasnya.

Aksi May Day tahun ini bukan sekadar ritual tahunan.

Ada kekecewaan yang mendalam, terutama terhadap pemerintah yang dianggap abai terhadap nasib buruh. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved