Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Gus Nasrul di Unnes: Indonesia Darurat Sifat Malu

Wakil Ketua Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama MUI Pusat, Prof DR KH Nasrulloh Afandi, khutbah di Unnes Semarang.

Editor: raka f pujangga
istimewa
FOTO BERSAMA - Gus Nasrul(Baju putih) bersama Prof DR S Martono. S. Msi(Rektor UNNES) sejumlah Warek, sekretaris Universitas dan dekan FT, pada hari Jumat 2 Mei 2025 

Hanya kecil contoh dari sebagian hilangnya rasa malu, manusia dasawarsa ini, yang kerap menggelari dirinya manusia modern.

Semua manusia beriman, apapun agamanya, apapun sukunya, khusunya orang-orang yang beragama Islam, wajib mereorientasi diri, agar tertanam rasa malu, disaat melakukan hal-hal yang bertentengan dengan norma-norma agama, malu saat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kode etik interaksi sosial, malu saat melanggra konstitusi Negara. 

Wajib malu saat bermaksiat di ruang publik. Lebih lebih wajib malu ketika memamerkan kemaksitan di media sosial. 

Wajib malu, saat diringkus oleh penegak hukum. 

Wajib malu ketika memamerkan anggota tubuh di ruang publik.

Hal itu, demi menghormati diri kita sebagai manusia yang beragama dan berpradaban. Bukan malah sebaliknya, berebangga memamerkannya !.

Ditegaskan dalam sebuah hadits: riwayat Muslim, bahwa  sifat malu termasuk bagian dari iman,".

Dalam riwayat lain pun ditegaska .: “Jika kamu tak punya malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al Bukhari)

Orang yang hilang rasa malunya, maka dapat dipastikan, akan bersikap, akan berbuat seenaknya, meski tindakan -tindakannya nyata-nyata melanggar norma agama dan etika bermasyarakat. 

Contoh kecilnya, saat siang bulan Romadhon,orang yang berkeweajiban berpuasa, tidak malu makan minum di warung pinggir Jalan. 

Atau anak-anak muda, yang tidak malu berkendaraan  ugal-ugalan di jalan raya mengganggu kepentingan umum.

Contoh lainnya? Banyak orang tidak pernah belajar agama Islam secara mendalam, tidak pernah belajar di pesantren.

Tiba-tiba tanpa malu banyak yang mendeklarasikan dirinya sebagai ahli agama Isla, sebagai ustad, sebagai kiyai. Tutur Gus Nasrul yang juga alumnus pesantren Lirboyo Kediri itu.

Diantara skandal yang harus di perbaiki adalah, pola fikir yang terbalik. Pola fikir salah kaprah, seperti merasa bangga saat memamerkan kemaksiatan. Banggga saat melakukan kesalahan.

Baca juga: Kisah Kuat Mahasiswa Unnes Dikeroyok 5 Polisi Saat Aksi Tolak RUU TNI, Lapor ke Komnas HAM

Di penghujung khutbah, Gus Nasrul juga mengajak untuk meniru dan melaksanakan hal-hal yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh beliau. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved