Kamis, 16 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pantura

BRIN Kembangkan Padi Biosalin, Sawah Rob di Pantura Kini Bisa Panen

Sawah yang terdampak rob di pesisir utara Jateng kini tak lagi harus dibiarkan menganggur. 

|
Penulis: budi susanto | Editor: rival al manaf
(TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO)
TUNJUKKAN PETASOL DAN BERAS BIOSALIN - Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menunjukkan hasil olahan sampah plastik berupa bahan cair atau Petasol dan beras hasil bibit padi Biosalin yang ditamam di sawah berair payau, Senin (5/5/2025). Gubernur Luthfi menunjukkan produk tersebut usai menggelar pertemuan dengan BRIN di Kompleks Pemprov Jateng. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sawah yang terdampak rob di pesisir utara Jateng kini tak lagi harus dibiarkan menganggur. 

Lewat tangan para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), benih padi tahan air payau bernama Biosalin berhasil dikembangkan dan mulai dibudidayakan di beberapa daerah pantai.

Tri Martini Patria, Peneliti Ahli Utama di Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, mengatakan potensi sawah air payau di wilayah Pantura Jateng mencapai 15 ribu hektare. 

Namun saat ini BRIN masih mengembangkan biosalin di lahan seluas 500 hektare.

“Air payau selama ini tidak bisa digunakan untuk pertanian. Tapi melalui riset kami, padi varietas Biosalin 1 dan Biosalin 2 sudah bisa ditanam sejak diluncurkan pada 2020 lalu,” kata Tri Martini saat ditemui Tribujateng.com di Kompleks Pemprov Jateng, Senin (5/5/2025).

Menurutnya, produktivitas padi biosalin bisa mencapai 9 hingga 10 ton gabah kering per hektare. 

“Panen terakhir memang baru sekitar 6,9 ton per hektare, tapi ini sudah sangat baik, karena lahannya sebelumnya tidak bisa dimanfaatkan,” tambahnya.

BRIN saat ini terus memperluas pengembangan ke berbagai daerah seperti Cilacap, Pekalongan, Jepara, dan Brebes. 

Harapannya, lahan-lahan sawah yang terkena rob tetap bisa menghasilkan dan mendukung ketahanan pangan.

Lebih menariknya lagi, BRIN juga sedang mengembangkan varietas padi yang mampu tumbuh di air asin. 

Inovasi ini menjadi harapan baru bagi petani di wilayah pesisir.

Tak hanya fokus pada pertanian, BRIN juga memperkenalkan Petasol bahan bakar alternatif hasil olahan sampah plastik. 

Petasol kini mulai digunakan untuk kendaraan operasional pertanian dan perikanan di Kota Semarang.

“Dari 1 kg sampah plastik, bisa diolah menjadi sekitar 80 persen petasol per liter. Harganya juga terjangkau, Rp6.000 hingga Rp7.000 per liter. Bukan sekadar jualan BBM, tapi solusi untuk sampah plastik,” lanjutnya.

Anggota Dewan Pengarah BRIN, Tri Mumpuni, menegaskan seluruh riset yang dilakukan ditujukan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved