Horizzon
Memelihara Ormas, Menunda Konflik Sosial
Memiliki latar belakang militer yang tentu ekuivalen dengan sikap tegas merupakan garansi Prabowo Subianto memenangi Pilpres 2024
Penulis: Ibnu Taufik Juwariyanto | Editor: abduh imanulhaq
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng
MEMILIKI latar belakang militer yang tentu ekuivalen dengan sikap tegas merupakan garansi Prabowo Subianto memenangi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 lalu. Ketegasan inilah yang menjadi harapan besar bagi pemilih Prabowo untuk menyelesaikan sejumlah problem di negara ini.
Saya khusus ingin mendiskusikan soal sikap tegas dari Prabowo ini, dan untuk itu, faktor lain termasuk kepemilikan golden ticket yang diperolehnya dari Mahkamah Konstitusi (MK), yang kemudian ikut dibawa Prabowo ke dalam kontestasi, rasanya perlu dikesampingkan dulu.
Ketegasan dari sosok Prabowo, jenderal bintang empat sekaligus kebanggaan korps baret merah ini menarik menjadi bahan diskusi lantaran belakangan seperti lenyap begitu saja justru hanya karena masalah ormas arogan.
Hingga detik ini, saya masih percaya dengan apa yang disampaikan Gus Dur yang menyebut bahwa orang yang paling tulus ikhlas terhadap negeri ini adalah Prabowo Subiyanto.
Tapi kenapa, saat semua orang berharap Presiden bersikap tegas pada ormas yang sudah membuat resah, Prabowo nyaris tak memberikan reaksi berarti.
Apakah kurang arogansi yang ditunjukkan ormas dengan mewalan dan membakar mobil aparat penegak hukum? Selain menantang dan memaki sejumlah purnawirawan TNI, menentang kebijakan pemerintah daerah, dan tindakan premanisme yang hampir dijumpai di seluruh penjuru Tanah Air, membakar kendaraan polisi merupakan tindakan yang paling tak bisa saya terima dengan akal sehat.
Namun lagi-lagi, tak ada reaksi dan sikap berarti dari pemerintah terhadap ulah ini ormas. Diam dan melakukan pembiaran sebagai bentuk balas jasa atas dukung mendukung di Pilpres? Rasanya kok analisis tersebut terlalu sederhana. Apalagi jika tudingan diamnya Prabowo sebagai presiden dikaitkan dengan sejarah dengan pemimpin ormas ini, rasanya tudingan tersebut, menurut saya, juga terlalu skeptis.
Saya melihat ada alasan lain mengapa Prabowo dan pemerintah seolah membiarkan situasi ini berkepanjangan. Prabowo tidak sesentimentil yang kita bayangkan, semua ini hanya karena cerita masa lalu. Pasti ada alasan lain membiarkan ini semua dan pembiaran ini sudah dihitung dengan matang.
Ingat, masalah utama di negeri ini, menurut saya, adalah tentang kesenjangan yang nyata. Mereka yang miskin jumlahnya semakin banyak. Bukan hanya itu, orang-orang miskin yang faktanya merupakan mayoritas ini selalu menonton dengan mata telanjang, polah tingkah elite yang kian tak beradab.
Korupsi makin subur dan membudaya, hukum sama sekali jauh dari apa yang disebut keadilan, sementara demokrasi juga terus terkoyak. Inilah benih-benih kesenjangan sosial yang harus dicarikan solusi. Jika tidak, ketidakpuasan dari kelompok tak berdaya secara ekonomi, sosial, dan politik ini akan meledak. Dan, itu berbahaya.
Di sinilah menurut saya ormas-ormas itu mengambil peran menjadi kanal untuk menyalurkan ketegangan sosial yang mulai tampak jelas. Mereka yang miskin, tak berdaya secara sosial dan politik, akhirnya bisa berhalusinasi menjadi penguasa, sekaligus bersikap arogan saat ada atribut ormas tertentu di diri mereka.
Ibarat konsep placebo effect di dalam psikologi, mereka yang bergabung di dalam ormas ini seolah memperoleh kebebasan, bahkan seolah merasakan kekuasaan, dan terkadang memperoleh kebutuhan fisiologis dari aktivitas mereka.
Alasan inilah yang menurut saya paling rasional mengapa Prabowo dan Pemerintah ini memilih membiarkan ormas-ormas yang polah tingkahnya sudah layaknya preman hidup. Tak lain dan tak bukan karena ormas-ormas itulah yang saat ini mampu menjadi wadah, mereka-mereka yang lapar, tak berdaya tersalurkan emosi dan afiliasinya.
Pilihan ini setidaknya bisa memperpanjang waktu, sebab bukankah hal yang sangat sulit untuk membenahi tatanan hukum, demokrasi, dan konsep ekonomi berkeadilan di negeri ini menjadi lebih adil dan beradab untuk semuanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ibnu-Taufik.jpg)