Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Horizzon

Tuhan yang Putus Asa 

Semua tahu, bencana longsor dan banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar bukan semata karena cuaca

DOK
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng

BARANGKALI, Tuhan benar-benar sudah putus asa. Kalimat itu barangkali terlalu berlebihan. Namun setidaknya kalimat itu jauh lebih bermakna dibanding sekadar ucapan duka mendalam atas apa yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Angka kematian akibat bencana banjir dan longsor di tiga provinsi itu nyaris menyentuh angka seribu dan, saya yakin, bakal tembus dan lebih. 

Kegetiran atas banjir dan longsor itu juga terus berseliweran dan mudah disaksikan di ponsel kita. Inilah maka saya lebih memilih kalimat, ‘Barangkali Tuhan benar-benar sudah putus asa.’

Semua tahu, bencana longsor dan banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar bukan semata karena cuaca. Alam mengamuk karena sudah sekian lama diperkosa oleh keserakahan manusia. 

Keputusasaan Tuhan bukan kepada mereka yang selama ini tamak dan serakah membabat hutan. Tuhan justru putus asa kepada kita semua, yang seolah bodoh dan diam tanpa melawan kepada mereka yang serakah. 

Untuk mereka, para oligarki yang memperkaya diri dengan kelicikannya, tentu Tuhan sudah mencatat dan menyiapkan balasannya. Dalam kadar tertentu, saya percaya, mereka juga percaya akan dosa. 

Untuk itulah barangkali mereka yang terus menerus memperkaya diri dengan segala cara adalah kesengajaan. Harta dari menjarah alam, menjarah konstitusi dan mengangkangi kekuasaan akan mereka bawa untuk menyuap malaikat di kehidupan yang akan datang. Ya, barangkali itu yang ada di kepala mereka. 

Keputusasaan Tuhan justru pada kita, yang terus menerima dibodohi, diam, dan tak berdaya dikangkangi mereka. 

Negeri ini memang gampang melupakan banyak hal. Terkait 970-an nyawa yang ditenggelamkan banjir Sumatra, mungkin juga akan segera kita lupakan dalam satu dua bulan kedepan. 

Tuhan lelah setelah sejumlah kenyataan yang membodohi kita lenyap begitu saja tanpa sedikit pun kita melawan. 

Seandainya kali ini Tuhan menghadirkan akibat keserakahan dari kemarahan alam, coba kita kembali berkaca pada fakta telak yang belum lama terjadi, namun juga sudah tenggelam dan kita lupakan. Kasus pagar laut juga sebuah tragedi lingkungan yang ada di depan mata kita. Kita dipertontonkan pada keserakahan manusia dan semuanya kita lupakan begitu saja. Hingga saat ini, kita bahkan lupa menanyakan ujung dari problem lingkungan yang sebenarnya gampang untuk diurai. 

Jangan salah, saya terpaksa harus menyebut tentang IKN, yang sampai saat ini saya masih sangat yakin bahwa itu adalah proyek keserakahan. Ah, soal itu juga tampaknya mulai dilupakan. 

Tragedi kemanusiaan yang juga sudah dilupakan adalah kasus Kanjuruhan. Sebanyak 135 nyawa mati sia-sia di dalam stadion dan itu juga dengan mudahnya kita lupakan. 

Kita semua lupa dengan ‘kebodohan’ aparat dalam kasus Kanjuruhan. Konon kita sengaja melupakan ini hanya demi nama baik dari perspektif FIFA dan kita ingin jadi tuan rumah Piala Dunia. Sebuah harga tawar yang, menurut saya, getir untuk dibicarakan. 

Tuhan lelah menunggu anak-anak negeri ini untuk melawan ini keserakahan. Tuhan bosan dengan ketidakberdayaan kita semua. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved