Horizzon
Pesan dari Sirampog
Meliput bencana tanah bergerak di Desa Mendala, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, saya bisa bertemu dengan sejumlah orang
Penulis: Ibnu Taufik Juwariyanto | Editor: abduh imanulhaq
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng
LIPUTAN di lokasi bencana atau kedukaan merupakan liputan yang boleh memiliki tantangan tersendiri. Empati harus dikedepankan, di samping tugas profesi yang menuntut jurnalis mampu memotret peristiwa lebih mendalam.
Syukurlah, ketika harus ikut turun langsung meliput bencana tanah bergerak di Desa Mendala, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, saya bisa bertemu dengan sejumlah orang yang bisa berkisah tentang apa yang sedang mereka alami, harapan sekaligus kisah yang mereka miliki.
Adalah Nasrullah dan Yanto, dua nama yang lekang di ingatan saya, selain lima orang lainnya yang saat itu saya temui di lokasi bencana. Saat itu mereka tengah mengais sejumlah barang berharga yang masih bisa dimanfaatkan dari rumah mereka yang sudah nyaris rata denga tanah.
Kebetulan, saat itu azan zuhur berkumandang sehingga sambil berteduh di bawah rindang pepohonan, kami terlibat dalam obrolan ringan. Kopi yang mereka sajikan untuk saya dan teman-teman dari Tribun Jateng menjadi simbol keakraban siang itu.
Melepaskan semua alat tulis untuk mencatat sekaligus alat rekam, saya sengaja mengabaikan belanja data layaknya seorang jurnalis. Suasana bersahabat yang tercipta siang itu memungkinkan saya untuk memperoleh kisah dan cerita lebih mendalam, dibanding data yang berupa angka-angka.
Sebab, jika hanya ingin tahu tentang bencana tanah bergerak di Desa Mendala ini dengan mudah saya bisa memperolehnya dari pemerintah setempat. Bagaimana bencana ini menimpa di area 90 hektare, yang terdiri atas 80 hektare area persawahan dan 10 hektare kawasan permukiman. Dengan mudah saya juga bisa memperoleh bagaimana bencana ini merobohkan 135 rumah yang dihuni oleh 570 jiwa di tiga dusun, yaitu Dusun Krajan, Babakan, dan Cupangbungur plus sebagian Dusun Karanganyar.
Benar saja, dengan mengedepankan empati pada mereka yang terkena musibah, dari obrolan ringan yang awalnya penuh diliputi dengan gelak tawa, saya tiba-tiba dikejutkan dengan suara Nasrulah yang tiba-tiba menjadi parau. Ia menarik nafas begitu dalam dan tak sanggup melanjutkan kisahnya. Matanya berkaca-kaca dan kemudian bulir bening menetes dari kelopak matanya. Pandangannya menatap kosong ke arah reruntuhan rumahnya dan belasan rumah tetangganya, yang bukan hanya rata dengan tanah, namun sebagian justru tenggelam ditelan bumi.
Bukan rumah secara fisik yang ia tangisi. Bencana tanah bergerak, yang terjadi pada 17 April 2025, dan berulang sampai sepekan kemudian itu telah mengubur sejarah sekaligus cita-cita mereka. Tidak cukup sampai di situ, warga di sana rata-rata adalah petani yang juga tak punya lagi lahan untuk menjadi media ikhtiar mereka meminta rezeki pada Tuhannya lantaran sawah mereka juga rusak.
Nasrullah, Yatno dan pastinya 570 jiwa yang lain bukan hanya kehilangan rumah dan sawah. Mereka kehilangan semuanya, termasuk harapan dan cita-cita mereka.
Tidak adanya korban jiwa dalam bencana ini tidak lantas menjadi alasan saya dan kita semua untuk tidak berempati untuk bencana ini. Mereka kehilangan harapan sekaligus sejarah yang terkubur ditelan bumi. Kasat mata, bekas-bekasnya masih bisa dilihat, dan justru itulah yag membuat luka yang mereka perihnya semakin menyayat.
Seandainya ada permintaan dari mereka terkait dengan hunian tetap, saya memastikan, itu semua tak bisa menggantikan apa yang sudah hilang dari mereka. Ironisnya, di saat mereka merasa kehilangan semuanya, rasa dikhianati justru muncul lantaran sikap ‘arogan’ dari oknum-oknum pemerintah desa dari gabungan sejumlah desa dan pemilik modal di kawasan tersebut.
Mereka menduga, bencana tanah bergerak yang membuat perkampungan mereka ambles ditelan bumi adalah eksplorasi batu pasir di sungai persis di bawah perbukitan tempat sawah dan permukiman mereka. Meski belum dibuktikan secara empiris, namun aktivitas penambangan batu dan pasir di sungai di bawah sempat dihentikan, seusai bencana tersebut terjadi. Namun setelah korban terdampak ini memeroleh hunian sementara, aktivitas pengambilan batu dan pasir ini kembali beroperasi, meski sebelumnya ada perjanjian aktivitas tersebut dihentikan.
Lagi-lagi, mereka merasa tak berdaya dengan situasi tersebut. Namun yang jelas kenyataan tersebut menyisakan rasa tak percaya yang mendalam bagi mereka yang sekarang tengah membutuhkan Langkah nyata dari pemerintah. Mereka hanya berharap, sebagai warga negara, bencana yang mereka alami tidak kemudian dimanfaatkan oleh penguasa untuk mengambil untung di balik apa yang disebut dengan tanggap darurat.
Saya meyakini, apa yang sudah dilakukan pemerintah sudah cukup baik. Hunian sementara yang disediakan juga boleh dibilang representatif sebagai tempat sementara sebelum mereka memeroleh hunian tetap.
Namun rasanya, percepatan untuk mengatasi masalah ini perlu menjadi prioritas bagi Pemerintah Kabupaten Brebes. Saya percaya, Bupati Brebes sudah melakukan yang terbaik untuk mengtasi ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ibnu-Taufik.jpg)