Selasa, 12 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Hotel Semarang

Hotel-Hotel di Semarang Dijual dari Rp 100 Hingga 290 M, Akibat Efisiensi Anggaran?

Di Kota Semarang, sebuah hotel dengan luas tanah 1.997 meter persegi dan luas bangunan 5.000 meter persegi dijual di loka pasar dengan harga Rp 100 M

Tayang:
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG/ EKA YULIANTI FAJLIN
HOTEL DIJUAL - Potret sebuah Hotel di Semarang ditawarkan di sebuah platform. Bisnis perhotelan sedang lesu di tengah kebijakan efisiensi anggaran. (TRIBUN JATENG / EKA YULIANTI FAJLIN) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sejumlah bangunan hotel di Jateng dijual di loka pasar jual-beli properti.

Banyaknya hotel dijual ini disebut sebagai dampak efisiensi anggaran.

Di Kota Semarang, sebuah hotel dengan luas tanah 1.997 meter persegi dan luas bangunan 5.000 meter persegi dijual di loka pasar dengan harga Rp 100 miliar. 

Ada pula hotel berbintang di Semarang dengan luas tanah 5.489 meter persegi dan luas bangunan 9.547 meter persegi dijual di loka pasar seharga Rp 290 miliar. 

Baca juga: Bekali Siswa Perhotelan, Poltek Harber Gelar Pelatihan English for Tourism

Baca juga: Aditya Bunuh DNS karena Tak Puas dengan Layanan Korban di Kamar 203 Hotel Citra Dream Semarang

Penasihat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jateng, Bambang Mintosih mengatakan, sejumlah hotel yang dijual itu kemungkinan adalah hotel bintang dua.

Sejauh ini, dia mengungkapkan, belum ada hotel bintang empat yang dijual. 

Menurut dia, pengusaha yang memiliki sejumlah usaha kini masih bisa bertahan dengan subsidi silang.

Namun, pengusaha yang hanya memiliki bisnis hotel saja saat ini sangat merasakan kesulitan, apalagi yang hanya berfokus pada pelayanan MICE. 

Jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan, dia khawatir kondisi akan semakin lesu. 

"Juni - juli memang ada liburan (sekolah,red). Peserdiaan iya. Tapi, kalau tidak diikuti segera yang 50 persen dibelanjakan atau relaksasi pengurangan pajak, membuat kita ketar ketir," ujarnya.

Ia menjelaskan, okupansi hotel terutama Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) sangat menurun sejak pemerintah menerapkan efisiensi anggaran

Penasihat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jateng, Bambang Mintosih mengatakan, 60 persen perhotelan di Jateng merupakan segmen MICE.

Sebanyak 80 persen perhotelan menggantungkan pada kegiatan pemerintahan. 

Dia mencatat, ada 2.000 hotel dari bintang satu hingga bintang lima terdaftar di PHRI. 

Mayoritas memiliki meeting room. Dalam sebulan, rata-rata ada 14 - 20 pertemuan. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved