Kamis, 21 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Refleksi Tahun Baru Islam: Momentum Pembaruan Diri dan Spirit Akademik

Refleksi Tahun Baru Islam: Momentum Pembaruan Diri dan Spirit Akademik

Tayang:
Editor: Editor Bisnis
ist
Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag. Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto 

 

Oleh : Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag.
Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto

Tahun Baru Hijriyah bukan semata-mata penanda perubahan tahun dalam sistem penanggalan Islam. 

Momen ini memiliki makna spiritual yang mendalam dan menjadi pengingat bagi umat Islam terhadap salah satu episode penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, yaitu hijrah dari Makkah ke Yatsrib (yang kini dikenal sebagai Madinah).

Peristiwa bersejarah ini menjadi titik awal ditetapkannya kalender Hijriyah oleh para sahabat, termasuk Khalifah Umar bin Khattab.

Hijrah dipahami bukan sekadar perpindahan tempat secara fisik, melainkan sebagai lambang perubahan arah, pembaruan visi, dan langkah menuju kemajuan.

Sebelum hijrah Rasulullah ﷺ ke Yatsrib terjadi, beliau telah melakukan dua pertemuan penting dengan penduduk kota tersebut, yang dikenal sebagai Bai’at Aqabah Pertama (tahun 621 M) dan Bai’at Aqabah Kedua (tahun 622 M).

Pada Bai’at yang pertama, 12 orang dari kalangan suku Aus dan Khazraj menyatakan keimanan mereka kepada Islam dan berjanji untuk tidak menyekutukan Allah, menjauhi pencurian, perzinaan, dan pembunuhan.

Satu tahun kemudian, jumlah peserta dalam Bai’at Aqabah Kedua meningkat drastis menjadi 73 laki-laki dan 2 perempuan.

Selain meneguhkan keimanan, mereka juga menyatakan komitmen untuk memberikan perlindungan kepada Rasulullah dan menerima beliau berhijrah ke Yatsrib. Peristiwa ini menjadi fondasi sosial dan politik dari hijrah yang kemudian dilakukan.

Dukungan penuh dari masyarakat Yatsrib memberikan jaminan bagi Rasulullah untuk melanjutkan perjuangan dakwah secara lebih terbuka.

Maka, ketika hijrah dilakukan, ia bukan sekadar upaya menghindar dari tekanan di Makkah, melainkan langkah strategis untuk membangun komunitas Muslim yang kuat dan berperadaban.

Setibanya di Yatsrib, Rasulullah mengganti nama kota itu menjadi Madinah, yang bermakna kota beradab (madaniyyah).

Nama lengkapnya, Al-Madinah Al-Munawwarah (kota yang bercahaya), menandakan bahwa Islam tidak hanya hadir sebagai agama, tapi sebagai sistem nilai yang menyinari dan membangun kehidupan umat manusia. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:

“Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257)

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved