DPRD Jateng
Produksi Sidat di Cilacap Masih Rendah, Padahal Pasar Ekspor Jepang Terbuka Lebar
Wakil Ketua DPRD Jateng Sarif Abdillah mengatakan produksi ikan sidat di Kabupaten Cilacap perlu terus ditingkatkan.
Penulis: Laili Shofiyah | Editor: M Zainal Arifin
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Produksi ikan sidat di Kabupaten Cilacap perlu terus ditingkatkan.
Keberadaannya bisa meningkatkan perekonomian daerah setempat.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan, saat ini produksi sidat di daerah itu masih tergolong rendah, dengan kapasitas hanya mencapai 2–3 ton setiap bulan.
“Jumlah ini, tentu belum mampu untuk memenuhi permintaan pasar, utamanya untuk kegiatan ekspor,” ungkapnya.
Selama ini, Cilacap menjadi penghasil utama sidat di Pulau Jawa, dengan luasan lahan budi daya sidat mencapai 17,8 hektare.
Pada 2023, hasil produksi budi daya sidat mencapai 27,36 ton.
“Ini tentu peluang bagus karena di Jepang sidat mulai habis, sehingga mencari pasokan dari negara lain."
"Karena itu, hal yang utama saat ini adalah bagaimana bisa meningkatkan produksinya,” sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Baca juga: Wakil Ketua DPRD Jateng Sarif Abdillah Minta KEK Batang Libatkan Dunia Pendidikan dan Warga Sekitar
Masih minimnya produksi, diakui Sarif, akibat jumlah kolam budidaya sidat di wilayah Cilacap masih sangat terbatas.
Padahal, potensi ekspor sidat cukup besar dan menjanjikan.
“Karena itu, pemerintah daerah perlu terus melakukan upaya pengembangan melalui pembinaan dan pendampingan terhadap pembudidaya termasuk penambahan kolam atau cluster budidaya sidat baru,” jelas politikus yang akrab disapa Kakung ini.
Salah satunya, kata Sarif, adalah dengan menjalin kolaborasi bersama berbagai pihak, termasuk melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan yang ada di Cilacap.
“Potensi pengembangan budidaya sidat di Cilacap sangat besar, hanya saja masih membutuhkan pendampingan dan dukungan untuk dapat berkembang secara optimal,” kata legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Sarif juga menginginkan adanya teknologi maupun inovasi dalam budidaya sidat ini.
Baca juga: Jawa Tengah Masih Darurat Lahan Kritis, Sarif Abdillah Dorong Rehabilitasi Berbasis Rakyat
Sebab akan menambah value dari sidat yang akan diekspor.
“Misalnya tidak menjual dalam bentuk basah, tapi sudah diolah."
"Ikan sidat besar difilet dan diolah menjadi unagi, bisa diekspor, dan itu premium."
"Ini menambah value,” jelasnya. (Laili S/***)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250715_Sarif-Abdillah_Sidat-2.jpg)