Berita Jateng
BP3MI Jateng Pacu Peningkatan Penempatan Pekerja Migran di Jawa Tengah
Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Tengah menggelar rapat koordinasi yang melibatkan beberapa lembaga pelatihan
Penulis: hermawan Endra | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Tengah menggelar rapat koordinasi yang melibatkan beberapa lembaga pelatihan keterampilan swasta dan P3MI.
Rapat ini bertujuan untuk meningkatkan target penempatan pekerja migran asal Jawa Tengah, yang menjadi salah satu provinsi dengan jumlah penempatan pekerja migran terbesar di Indonesia.
Kepala BP3MI Jawa Tengah, Pujiono mengatakan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas penempatan pekerja migran, pihaknya diharapkan dapat memfasilitasi calon pekerja dengan pelatihan yang sesuai dengan kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkan di negara penempatan.
Selain itu, LPKS yang telah memiliki izin resmi didorong untuk bekerja sama dengan perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia guna meningkatkan kualitas penempatan dan memastikan para pekerja siap bekerja di luar negeri.
Fungsi utama dari LPKS adalah untuk menyiapkan calon pekerja migran dengan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan.
LPKS tidak boleh melakukan penempatan langsung, namun hanya dapat memfasilitasi proses pelatihan dan memberikan persiapan bagi calon pekerja migran.
Pengaturan ini memastikan bahwa LPKS tetap berfokus pada penyediaan kompetensi, sementara penempatan dilakukan oleh pihak yang berwenang seperti perusahaan penempatan yang telah terdaftar.
Pada tahun 2024, Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi dengan urutan kedua terbesar di Indonesia untuk penempatan pekerja migran, dengan lebih dari 66.610 pekerja migran yang tersebar di berbagai negara.
Negara tujuan utama bagi pekerja migran asal Jawa Tengah adalah Korea Selatan dan Jepang, yang merupakan dua negara dengan kebutuhan besar akan tenaga kerja dari Indonesia.
Korea Selatan, khususnya, menjadi pilihan favorit bagi masyarakat Jawa Tengah karena syarat penerimaan yang tidak terlalu rumit.
Untuk bekerja di Korea, pelamar hanya perlu memenuhi beberapa kriteria, seperti lulusan SMP dengan batas usia maksimal 39 tahun, serta lulus ujian EPS (Eps Topik) dan tes keterampilan.
Kesempatan ini menjadikan Korea Selatan sebagai tujuan utama bagi pekerja migran asal Jawa Tengah.
Jepang juga menjadi tujuan menarik bagi pekerja migran dari Jawa Tengah, mengingat gaji dan kondisi kerja yang kompetitif. Jepang membutuhkan pekerja migran untuk mengisi berbagai sektor industri, seperti manufaktur, pertanian, perkayuan, dan sektor jasa lainnya.
Setiap tahun, Jepang membutuhkan sekitar 70.000 pekerja migran, dan ini menjadi peluang besar bagi masyarakat Indonesia, khususnya dari Jawa Tengah, untuk bekerja di negara tersebut.
Rapat koordinasi yang diadakan, 10 Juli kemarin juga menjadi forum bagi para peserta untuk berbagi pengalaman terkait masalah-masalah yang dihadapi dalam proses penempatan pekerja migran.
| Gubernur Ahmad Luthfi Peringati Hardiknas di SMKN 1 Kedawung Sragen, Inilah Alasannya |
|
|---|
| Dongkrak Pariwisata Jateng, Taj Yasin Atraksi Paralayang di Curug Sewu Kendal |
|
|---|
| "Kalau Bisa Setiap Hari" Wagub Jateng Ketagihan Usai Jajal Paralayang Curug Sewu Kendal |
|
|---|
| KAI Daop 4 Semarang Tutup 41 Perlintasan Sebidang, Fokus Tekan Kecelakaan di Jalur Rawan |
|
|---|
| May Day di Jateng: Tolak FLPP Rumah Buruh, Tuntutan Upah Layak hingga Sembako Murah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250716-BP3MI.jpg)