Sabtu, 16 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Dongeng Anak

Dongeng Anak Sebelum Tidur, Kisah Mawara dan Toko Perhiasan

Di kota Bukhara, tinggallah seorang pemuda yang bekerja sebagai penjaga toko perhiasan. Pemuda ini bernama Mawara. Ia suka sekali berteman

Tayang:
Penulis: Alifia | Editor: galih permadi
YOUTUBE
Ilustrasi Anak Cerdas Kreatif 

Mawara sangat panik. Ia menggerak-gerakkan kakinya di udara agar tidak jatuh ke mulut naga.

Untunglah ia jatuh ke leher naga, lalu merosot turun ke semak-semak tanah.

Sayangnya, lutut Mawara cedera. Ia tak bisa berlari. Mawara sudah pasrah akan dimakan naga.

Tiba-tiba, terdengar suara seruling di kejauhan. Lalu muncul seorang pengelana  dengan wajah ramah.

Ia memapah Mawara pergi dari tempat itu. Setelah agak jauh, ia mengobati lutut Mawara.

“Kamu beruntung aku menemukanmu di sini. Semua setan di daerah ini, berada di bawah perintah penyihir Khorezm.

Dan kamu adalah hadiah untuk diperebutkan para setan. Tapi kamu selamat sekarang. Aku akan mengantarmu ke rumah sahabatku.

Menginaplah di sana. Besok pagi, kamu bisa kembali ke kota,” kata pengelana itu. 

Pengelana itu lalu membawa Mawara ke rumah temannya, seorang saudagar.

Rumah itu memiliki taman yang luas. “Saudagar pemilik rumah ini mempunyai tiga anak perempuan,” kata si pengelana.  

Pengelana itu menceritakan masalah Mawara pada si saudagar.

Saudagar itu mengijinkan Mawara tinggal di kemah di tamannya.

Mawara lega dan sangat berterimakasih.

Akan tetapi, Mawara tetap tak bisa tidur. Ia pun berjaga-jaga di dalam tenda.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara anak-anak perempuan di luar tenda.

“Mawara, ayo, kita bermain petak umpet. Ayah biasanya melarang kami bermain di luar rumah,” kata salah satu anak itu.

Mawara keluar dan melihat tiga anak perempuan.

“Ayah kalian bisa marah. Ayo, cepat masuk rumah lagi,” nasihat Mawara.

 “Tidak mau… Ayo, cari kami!” kata anak yang satunya sambil berlari.

Mawara tetap tidak mau. Tiba-tiba saja, wajah anak yang satunya lagi berubah jadi mengerikan.

Gigi-giginya jadi bertaring runcing.

“Kalau tidak mau, ini balasannya…” serunya dengan suara mengerikan.

Seketika, rumah mewah, taman luas, dan tenda Mawara hilang. Ia kini berada di tengah padang pasir sendirian.

Mawara langsung lari dari tempat itu sekuat tenaga. Ketiga anak yang kini memiliki taring runcing itu, mengejarnya terus tanpa henti.  

Di saat tenaganya hampir habis, Mawara tiba-tiba teringat pada cincin pemberian si penyihir Khorezm.

Ia segera mencabut cincin itu dari jarinya dan melemparnya sejauh jauhnya.

Seketika cincin itu berubah menjadi ular dan merayap masuk ke semak-semak.

Mawara terus berlari tanpa henti, sampai pagi pun merekah.

Ketika hari agak terang, Mawara sudah tiba di daerah pekuburan lagi.

Dari kejauhan, tampak bangunan-bangunan menara di kota.

Ketika berjalan di antara kuburan, ia menemukan teman-temannya yang tertidur di sana.

Mawara membangunkan mereka. Ia siap dimarahi dan dimusuhi teman-temannya itu.

Namun, ternyata mereka tidak ingat apapun yang terjadi.

Sejak hari itu, Mawara menghindar dari pesta pora teman-temannya yang kaya itu.

Ia pamit pada kedua orangtuanya untuk pergi bekerja di kota lain.

Mawara bertekat untuk bekerja keras dan menghindari hidup pesta pora.

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved