SUCCESS STORY
Cara Owner Mbah Jingkrak Ajeng Astri Denaya Gaet Pelanggan
Cara Owner Mbah Jingkrak Ajeng Astri Denaya Gaet Pelanggan hingga sekarang sudah buka cabang di beberapa kota.
Penulis: deni setiawan | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Berawal dari kegemaran memasak dan ingin lepas dari status sebagai pegawai, Ajeng Astri Denaya memulai bisnis kuliner. Dari modal tabungan Rp 14 juta, Ajeng terus melebarkan sayap bisnis ke beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bogor, Pekanbaru, dan Bali.
Strategi apa yang diterapkan owner Bentuman dan Mbah Jingkrak Ajeng Astri Denaya dalam mengembangkan bisnis? Berikut penuturannya kepada wartawan Tribun Jateng Deni Setiawan dan Hermawan Handaka di Semarang beberapa waktu lalu.
Kenapa memilih terjun ke bisnis kuliner?
Kalau saya buka usaha lain, entah bisa berkembang seperti ini atau tidak. Saya mengawali bisnis kuliner dari Warung Steak Bentuman. Niatan saya, harus menjadi pioner tanpa mengekor. Saat itu, sekitar 1997, di Kota Semarang belum ada warung steak. Menerapkan desain gaya koboi dan ilmu minimalis tetapi optimis, saya membuka Warung Steak Bentuman.
Saya tertarik terjun ke bisnis kuliner karena dorongan sejumlah teman. Sejak kecil saya suka masak. Hampir setiap saat, ketika ada waktu, saya bereksperimen dengan resep yang sudah ada kemudian memberikan ke teman-teman untuk mencoba hasil masakan. Katanya enak dan diminta membuka warung sebagai usaha. Dari berbagai masukan, kritikan, hingga saran, saya pun mulai serius bisnis kuliner.
Modal awal saya pada tahun itu Rp 14 juta dari tabungan sebagai pegawai di sebuah perusahaan garmen. Saya hitung benar modal yang minimal itu agar bisa menghasilkan maksimal. Uang itu saya gunakan untuk sewa tempat seluas 100 meter persegi dan membeli perlengkapan seadanya, serta bahan-bahan masakan steak.
Prinsip saya ketika itu, tidak sekadar ikut-ikutan membuka bisnis kuliner. Segmen konsumen yang saya tetapkan, midle low. Harapan saat itu tidak muluk-muluk, memperoleh pendapatan Rp 300.000 per hari. Tanpa diduga, apa yang saya jual memperoleh respon luar biasa sehingga pendapat lebih besar. Bisnis ini juga menunjukkan peningkatan di tiap bulannya. Saya sempat kaget juga karena saya bukan pakar kuliner, semua dari nol dan otodidak. (bersambung-bagaimana mengembangkan sayap bisnis kulinar)