Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jakarta

Dolar Bisa Rp 1.000? Ini Syarat dan Pro Kontra Soal Hilirisasi Ekspor

Hilirisasi bisa bikin dolar bisa Rp 1.000? Pemerintah optimis, tapi ekonom sebut tak realistis tanpa dukungan makroekonomi menyeluruh.

Penulis: Ctr | Editor: Catur waskito Edy
SHUTTERSTOCK Via Kompas.com
Ilustrasi dolar AS 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Wacana dolar bisa Rp 1.000 kembali mengemuka usai pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menyebut penguatan drastis rupiah dapat terjadi apabila hilirisasi komoditas ekspor digarap serius.

Gagasan ini langsung mengundang perhatian publik, tak terkecuali Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan kalangan ekonom yang menanggapi secara berbeda.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro, menyambut baik ide tersebut.

Ia menegaskan bahwa hilirisasi memang berpotensi meningkatkan nilai tambah ekspor dan memperkuat ketahanan devisa negara.

"Penguatan nilai tukar rupiah memerlukan sinergi kebijakan yang komprehensif, tidak cukup hanya hilirisasi, tapi juga makroekonomi dan moneter," ujarnya, Kamis (31/7/2025).

Hilirisasi Komoditas: Peluang atau Ilusi?

Pemerintah menaruh harapan besar pada hilirisasi komoditas seperti kelapa, kopi, dan kakao.

Amran bahkan menyebut nilai ekspor kelapa saat ini mencapai Rp 20 triliun, dan bisa melonjak hingga Rp 2.000 triliun bila diolah penuh di dalam negeri.

"Kalau semua komoditas kita hilirisasi, potensi ekspor bisa mencapai Rp 20.000 sampai Rp 50.000 triliun.

Dolar bisa Rp 1.000 kalau ini dikerjakan serius dari sekarang," kata Amran.

Namun, pernyataan ini langsung dibantah oleh sejumlah ekonom yang menilai bahwa wacana tersebut belum realistis, terutama dalam jangka menengah maupun panjang.

Ekonom: Banyak Faktor Tentukan Nilai Tukar

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut hilirisasi memang berkontribusi positif terhadap ekspor dan substitusi impor, namun terlalu berlebihan jika dianggap sebagai satu-satunya kunci penguatan rupiah.

“Nilai tukar tidak ditentukan oleh satu sektor. Ada inflasi, suku bunga, kebijakan moneter, investasi, hingga kondisi geopolitik global yang juga berperan,” jelasnya.

Saat ini Indonesia memang menjadi salah satu eksportir utama produk kelapa dunia, dengan kontribusi ekspor minyak kelapa sebesar 27 persen dari produksi global.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved