Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Horizzon

Sudewo, Bupati ‘Korea’

Di Pendapa Kemiri itulah untuk kali pertama saya bertemu dengan Sudewo, Bupati Pati.

|
DOK
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng

SUDEWO menghela nafas panjang. Kisahnya tentang Pati dan Mataram tiba-tiba terhenti. Ia mengaku merinding saat harus mengambil kesimpulan dari apa yang tengah ia kisahkan di Pendapa Kemiri, sehari sebelum Hari Jadi Kabupaten Pati. 

Ya, di Pendapa Kemiri itulah untuk kali pertama saya bertemu dengan Sudewo, Bupati Pati. Saya ingat betul, itu terjadi pada Rabu, 6 Agustus 2025, atau sehari menjelang Hari Jadi Ke-702 Kabupaten Pati yang jatuh setiap tanggal 7 Agustus. 

Pertemuan saya dengan Bupati Pati juga boleh dibilang tanpa skenario, meski saat itu saya sudah mulai mengikuti pemberitaan di Pati terkait dengan rencana aksi besar-besaran Aliansi Masyarakat Pati Bersatu yang menolak kenaikan PBB, pada 13 Agustus 2025. 

Pagi itu di hari yang sama, dari Semarang saya menuju ke Pati untuk menghadiri pernikahan, Like, salah satu staf redaksi Tribun Jateng yang berlangsung di Pati. Memang seusai acara hajatan tersebut, saya berniat untuk melihat langsung suasana di Alun-alun Pati, tepatnya di depan kantor Bupati Pati, yang sudah viral ada aksi penggalangan donasi air mineral yang akan digunakan untuk aksi unjuk rasa pada 13 Agustus 2025. 

Sebelum pamit, saya tanya kepada Mazka, reporter Tribun Jateng yang juga hadir di resepsi pernikahan, apakah dia memiliki nomor kontak pribadi Bupati Pati. Rupanya dia punya dan begitu saya simpan, saya langsung menghubungi Bupati Pati via WA. Saya berusaha memperkenalkan diri dan menyapa Sudewo, iseng saja siapa tahu saya bisa punya kesempatan mewawancarainya. 

Fast response. Pesan singkat saya langsung dijawab dan kemudian meminta saya untuk langsung ke Pendapa Kemiri, lantaran pada pukul 15.00, beliau akan memimpin acara kenduri alias doa bersama menjelang peringatan Hari Jadi Ke-702 Kabupaten Pati. 

Ketika saya sampai di Pendapa Kemiri, rombongan bupati belum datang. Saat itulah saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat dan kemudian tahu bahwa Pendapa Kemiri adalah bagian dari situs sejarah Kabupaten Pati. 

Begitu rombongan bupati tiba, saya tak langsung menghampirinya dan memilih menikmati segelas kopi yang sudah saya pesan untuk membunuh waktu menunggu kehadiran bupati. 

Saya berpikir, pasti acaranya begitu-begitu saja, berisi doa bersama dan sambutan bupati. Kalaupun lebih, pasti diisi dengan penjelasan 'basa-basi' Bupati Sudewo terkait dengan kebijakannya menaikkan PBB yang tengah jadi pembicaraan masyarakat Pati. 

Dugaan saya tidak salah, dari sebuah warung yang juga masih berada di kompleks Pendapa Kemiri tempat saya memesan kopi, Sudewo menjelaskan tentang kebijakannya. Saat itu dia masih bersikukuh dengan kebijakannya dan itu dilakukan dengan satu alasan, demi pembangunan di kabupaten yang ia pimpin. 

Namun ada kisah panjang yang disampaikan Sudewo yang memaksa saya untuk lebih mendekat ke Pendapa Kemiri. Saat itu, Sudewo berkisah panjang tentang sejarah Pati yang disebutnya ‘lebih tua’ dibanding Jogja. 

Ia bercerita, bagaimana peran Ki Ageng Panjawi, Adipati Pati, terhadap berdirinya Mataram Islam, yang kemudian menjadi Jogja dan Solo. Di kesimpulan singkat terkait inilah Sudewo mengatakan bahwa Pati memiliki peradaban yang jauh lebih tua dibanding Jogja dan Solo. Dan saat itulah, Sudewo menghela nafas panjang dan menghentikan ceritanya, sambil mengaku merinding. 

Saya paham, di balik kesimpulan itu, Sudewo bukan ingin mengatakan bahwa Pati lebih maju atau lebih hebat dari Jogja ataupun Solo. Saya sepakat, kala itu Sudewo ingin memberi semangat kepada warganya untuk bangga menjadi warga Pati. 

Kesan pertama itu juga membuat saya memiliki pandangan tersendiri kepada sosok Sudewo, bupati Pati. Di balik komentarnya yang banyak disebut terlalu arogan, saya memiliki kesimpulan bahwa Sudewo adalah orang yang paham atas Pati dan memiliki mimpi untuk membuat Pati menjadi lebih baik. Tentu, saya harus katakan, saya tidak memiliki pemahaman yang menyeluruh, apakah kisah antara Pati, dalam hal ini Ki Ageng Panjawi dengan Mataram Islam itu juga banyak dipahami warga Pati selain Sudewo atau tidak. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved