Tribun Jateng Hari Ini
Investasi Emas Tak Serumit Saham atau Kripto
tren menabung emas kian populer di masyarakat, karena emas dipandang sebagai simbol kekayaan dan harta yang memberi rasa aman.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: Vito
Ekonom Universitas PGRI Semarang (Upgris), Heri Prabowo menilai, tren menabung emas kian populer di masyarakat.
Hal itu tidak lepas dari faktor psikologis dan budaya. Emas dipandang sebagai simbol kekayaan dan harta yang memberi rasa aman.
"Bahkan, dalam tradisi pernikahan, emas masih dijadikan mas kawin. Masyarakat lebih merasa nyaman dengan emas dibanding instrumen seperti saham atau obligasi," katanya, baru-baru ini.
Menurut dia, faktor psikologis itu juga berkait dengan risiko yang tinggi ketika berinvestasi di luar emas. Masyarakat Indonesia itu masih menganggap emas sebagai investasi yang stabil.
"Masyarakat menganggap investasi emas tidak serumit saham atau kripto," ujarnya.
Heri menilai, emas masih menjadi pilihan tepat bagi masyarakat yang ingin melindungi nilai aset dari inflasi maupun pelemahan rupiah.
Pasalnya, dia menambahkan, emas cenderung mengalami kenaikan saat rupiah melemah atau adanya ketidakstabilan global, misalnya pertempuran atau konflik global.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) itu menuturkan, investasi emas memiliki keunggulan dari sisi likuiditas.
Emas dapat dengan mudah dicairkan kapan saja. Apalagi, investasi emas tidak harus memiliki modal besar alias sesuai gramasi yang hendak dibeli.
Emas pun terbukti tahan inflasi. Saat terjadi inflasi tinggi, ia berujar, harga emas juga cenderung naik. Meski investasi tidak memiliki deviden seperti sagam, emas memiliki potensi kenaikan harga.
"Inflasi tinggi, harga emas juga akan meningkat. Kalau dulu sekitar 10 tahun lalu harga emas masih di bawah Rp 1 juta/gram, sekarang sudah menembus Rp 2 juta/gram,” tuturnya.
Meski demikian, Heri mengingatkan, ada sejumlah risiko yang perlu dicermati. Ada potensi pemalsuan emas fisik. Selain itu, harga buyback atau menjual kembali juga terdapat potensi potongan.
Seperti instrumen investasi lain, emas juga dikenai pajak. Selain itu, pada emas digital, risiko berupa penipuan dari platform ilegal serta gangguan teknis sistem bisa saja muncul.
"Hadirnya digital gold bisa meningkatkan inklusi keuangan, karena memungkinkan investasi dengan nominal kecil. Namun, masyarakat harus berhati-hati, pastikan memilih platform yang diawasi OJK," tandasnya.
Heri juga menyoroti aspek makro dari tren investasi emas digital. Ia menyebut, emas memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Dekan-FEB-Upgris-Heri-Prabowo.jpg)