Tribun Jateng Hari Ini
Sentimen Suku Bunga The Fed Tekan Pasar Kripto
Tekanan terhadap aset berisiko meningkat dalam beberapa hari terakhir, setelah peluang penurunan suku bunga The Fed bulan depan menyusut.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: Vito
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Harga bitcoin (BTC) kembali melemah tajam. Selama November ini, fluktuasi Bitcoin cukup signifikan.
Pada awal bulan, tepatnya 4 November lalu, bitcoin turun 2,83 persen ke level 104.497,49 dolar AS. Meski sempet merangkak naik, kini Bitcoin kembali melemah tajam pada perdagangan Jumat (14/11).
Data CoinMarketCap hingga pukul 15.47 mencatat Bitcoin turun 6,49 persen, dan kini diperdagangkan di level 97.005,37 dolar AS.
Koreksi itu menambah tekanan pada pasar kripto yang secara keseluruhan mencatat penurunan lebih dari 6 persen dalam 24 jam terakhir.
Kapitalisasi pasar kripto global tercatat berada di angka 3,28 triliun dolar AS atau melemah 6,22 persen.
Indeks Altcoin juga berada pada level rendah, yakni 33/100, menandakan dominasi Bitcoin menguat di tengah melemahnya permintaan Altcoin.
Sementara, indeks Fear & Greed berada pada posisi 22, yang menunjukkan kondisi pasar sedang berada di zona fear.
Ethereum (ETH), aset kripto terbesar kedua, turun lebih dalam dibandingkan dengan Bitcoin. ETH anjlok 9,81 persen ke level 3.195,54 dolar AS. Beberapa aset kripto besar lain juga mengalami koreksi cukup signifikan.
Tekanan terhadap aset berisiko meningkat dalam beberapa hari terakhir, setelah peluang penurunan suku bunga The Fed bulan depan menyusut.
Hal itu seiring dengan semakin banyaknya pejabat bank sentral AS yang menyuarakan kehati-hatian terhadap kebijakan pelonggaran lebih lanjut.
Pasar kini mematok sekitar 50 persen probabilitas pemangkasan suku bunga pada Desember, turun dari sekitar 90 persen pada awal bulan, dan lebih dari 60 persen pada awal pekan ini.
Peningkatan transaksi
Adapun, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat peningkatan transaksi, dengan sebanyak 1.301 aset kripto yang dapat diperdagangkan di Indonesia hingga kini.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK , Hasan Fawzi mengatakan, nilai transaksi aset kripto selama Oktober 2025 tercatat mencapai Rp 49,28 triliun.
Menurut dia, angka tersebut meningkat signifikan 27,64 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 38,61 triliun.
Sementara sepanjang 2025, total nilai transaksi aset kripto tercatat senilai Rp 409,56 triliun. "Hal ini menunjukkan kepercayaan konsumen dan kondisi pasar yang tetap terjaga baik," katanya.
Hasan menuturkan, OJK telah menyetujui perizinan 29 entitas di ekosistem perdagangan aset kripto, yang terdiri dari satu bursa kripto, satu lembaga kliring penjaminan dan penyelesaian, dua pengelola tempat penyimpanan, dan 25 pedagang aset keuangan digital (PAKD).
Selain itu, dia menambahkan, OJK juga telah memberikan persetujuan lima lembaga penunjang, yang terdiri dari empat Penyedia Jasa Pembayaran (PJP), dan satu Bank Penyimpan Dana Konsumen (BPDK).
"Selanjutnya, kami saat ini sedang melakukan evaluasi atas permohonan izin usaha dan/atau persetujuan dari calon penyelenggara perdagangan aset kripto yang terdiri dari dua bursa, dua kliring, dua kustodian, empat CPAKD, satu PJP, dan tiga BPDK," jelasnya. (Eka Yulianti Fajlin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251114_Trader-memantau-pasar-kripto-melalui-CoinMarketCap_1.jpg)