Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Bank Makin Hati-hati, Kredit UMKM Masih Lesu

NPL kredit UMKM tercatat masih tinggi di level 4,5 persen. Angka itu lebih tinggi dari NPL bruto industri dalam periode ini ada di level 2,25 persen.

Tayang:
Editor: Vito
ISTIMEWA VIA KOMPAS.COM
ILUSTRASI kredit mobil 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Sektor UMKM nasional masih bergelut dengan tantangan pembiayaan hingga penghujung 2025. Bahkan, tekanan pembiayaan kian terasa pada bulan kesebelas tahun ini.

Menurut catatan terbaru Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit UMKM kembali mengalami kontraksi per November 2025, dengan outstanding kredit susut 0,64 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Hal itu merupakan kontraksi kredit UMKM kedua sejak awal tahun, setelah kontraksi 0,11 persen pada Oktober. BI mensinyalir tren negatif itu merupakan implikasi dari ketatnya persyaratan pemberian kredit (lending requirement).

“Persyaratan pemberian kredit semakin longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat peningkatan risiko kredit pada kedua segmen tersebut,” katanya, Rabu (17/12).

Data BI mencatat, rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) kredit UMKM masih tinggi di level 4,5 persen. Sebagai perbandingan, NPL bruto industri dalam periode ini ada di level 2,25 persen.

Namun, selain masalah ketatnya penyaluran, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menuturkan, pada dasarnya permintaan kredit UMKM masih cenderung rendah. Hal itu akibat daya beli yang juga belum kembali bugar.

Menurut dia, saat ini kredit UMKM CIMB Niaga tumbuh moderat sebesar 2,5 persen yoy. “Melambat dibanding dengan periode sebelumnya,” ujarnya, kepada Kontan, Kamis (18/12).

Meski demikian, ia mengakui, kualitas kredit mengalami pemulihan menjadi 3,6 persen.

Untuk menjaga rasio NPL dalam posisi yang aman, bank berfokus untuk meningkatkan kerja sama dan pelayanan terhadap nasabah setia, dan tetap selektif menyalurkan kredit ke nasabah baru.

Senada, EVP Corporate Communication & Social Responsibility Bank Central Asia (BCA), Hera F Haryn menyatakan, terus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit ke berbagai sektor, termasuk UMKM.

Namun, dia menambahkan, BCA juga berupaya mendorong kredit UMKM melalui sejumlah penawaran program. 

Satu di antaranya dengan memberikan suku bunga spesial untuk kredit UMKM berbasis lingkungan sosial dan tata kelola (LST), serta menghadirkan Kredit Multiguna Usaha (KMU) MerDeKa (Material, Developer, dan Kontraktor).

Ke depan, Hera menyebut, kinerja industri perbankan bakal sejalan dengan kondisi perekonomian.

“BCA berkomitmen memaksimalkan berbagai kanal penyaluran pembiayaan, digitalisasi, serta optimalisasi rantai pasok buyer atau mitra secara pruden,” ucapnya.

Sebagai gambaran, penyaluran kredit UMKM BCA tumbuh 7,7 persen yoy menjadi Rp 129,3 triliun per September 2025. 

Secara kualitas kredit, Hera menyebut, NPL segmen korporasi dan UMKM masih terkendali, sehingga NPL bank secara keseluruhan terjaga di level 2,1 persen. (Kontan/Lydia Tesaloni)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved