Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Masyarakat Kelas Menengah Tekan Belanja Hadapi Ramadan

Indeks tabungan kelompok menengah meningkat 0,49 poin dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi 101,2.

Editor: Vito
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
ilustrasi - Kota Lama Semarang ramai dikunjungi wisatawan pada musim libur Nataru 2025/2026. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kelompok menengah cenderung menahan belanja dan memilih meningkatkan tabungan sebagai bentuk persiapan menghadapi periode Ramadan yang diperkirakan jatuh pada Februari 2026.

Hal itu Berdasarkan laporan Bank Mandiri per 31 Desember 2025, yang mencatat indeks tabungan kelompok menengah meningkat 0,49 poin dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi 101,2.

Kenaikan itu menunjukkan kelompok menengah tidak terlalu agresif dalam belanja, meski aktivitas konsumsi masyarakat secara umum masih berlangsung. 

Sebaliknya, peningkatan belanja pada kelompok berpendapatan bawah justru diiringi dengan penurunan tabungan.

Indeks tabungan kelompok bawah tercatat sebesar 72,4, turun 0,71 poin dari November 2025.

Hal itu mengindikasikan belanja kelompok bawah dibiayai dengan menggerus simpanan yang dimiliki.

"Perilaku ini bisa dibaca sebagai sinyal persiapan menghadapi periode Ramadan di Februari 2026 mendatang," tulis Bank Mandiri dalam laporannya, dikutip Selasa (6/1).

Penurunan tabungan juga terjadi pada kelompok atas. Bank Mandiri mencatat indeks tabungan kelompok atas berada di level 92,0 atau turun 1,64 poin secara bulanan hingga akhir Desember 2025.

Laporan itu seiring dengan prediksi Celios yang menilai perputaran ekonomi selama periode Natal 2025 dan tahun baru 2026 (Nataru) tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.

Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda menilai, realisasi pergerakan uang di berbagai destinasi wisata utama, termasuk Yogyakarta, berpotensi meleset dari target awal akibat tergerusnya daya beli masyarakat.

Ia menyoroti adanya kesenjangan antara proyeksi jumlah wisatawan dengan realita di lapangan.

Huda mencontohkan, di Yogyakarta yang tadinya diperkirakan bakal diserbu jutaan orang, kenyataannya tidak mencapai angka tersebut, sehingga berdampak langsung pada omzet pelaku usaha lokal.

"Artinya adalah perkiraan perputaran uang juga akan kurang dari proyeksi awal. Di Yogya saja saya rasa perputaran ekonominya turun dibandingkan dengan tahun lalu. Terlebih kota-kota lainnya yang mengalami penurunan serupa," katanya, kepada Kontan.co.id, Selasa (6/1).

Menurut dia, faktor utama yang menjegal antusiasme berlibur kali ini adalah isu daya beli yang belum pulih.

Masyarakat cenderung menahan belanja atau memilih opsi liburan yang lebih hemat, karena kenaikan pendapatan tahun depan dianggap tidak sesuai dengan harapan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved